BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia merupakan hospes dari nematoda usus yang siklus hidupnya melalui tanah. Spesies nematoda usus disebut “Soil transmitted helminths” sedang yang terpenting bagi manusia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, Strongyloides stercolaris.1)
Di negara yang beriklim tropis infeksi cacing nematoda usus, diantaranya infeksi yang disebabkan cacing Soil Transmitted Helminths cacing ini tumbuh dan berkembangbiak. Sehingga derajat infeksi dapat mencapai 100 % dari jumlah penduduk. 2) Akibat dari infeksi cacing Soil Transmitted Helminths (STH) adalah gangguan pencernakan dan absorbsi makan, cacing ini ditemukan diusus halus. Keluhan yang lazim ditemukan pada penderita STH adalah nafsu makan menurun, gatal-gatal, lemah letih lesu karena kurang darah. 3) Baca entri selengkapnya »

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit sebagai unit usaha seperti semua perusahaan (enterprises) hanya berkembang dengan cepat jika menciptakan kepuasan dan kesetiaan pasien pada biaya yang terjangkau (affordable) (Soejadi, 1996).
Kepuasan pasien akan tercapai apabila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien dan keluarganya, ada perhatian terhadap keluhan, kondisi lingkungan fisik serta tanggap kepada kebutuhan pasien (Kotler, 2007).
Tirah baring atau imobilisasi dapat dialami oleh pasien dengan penurunan tingkat kesadaran atau kelumpuhan total atau sebagian dan pada kasus-kasus tertentu sebagai akibat tindakan pengobatan/ keperawatan (Priharjo, 1999).
Praktek sehari-hari di rumah sakit ada fenomena yang menarik untuk dipelajari dari pandangan perawat dan pasien, dimana ada kecenderungan perawat untuk meninggalkan suatu tindakan mandiri keperawatan. Ada sebagian perawat yang berpandangan bahwa seorang perawat dikatakan profesional bila ia mampu melakukan tindakan yang kadang berada di luar area kemandirian perawat itu sendiri. Sebagai bentuk tindakan mandiri, perawat melaksanakan kebersihan perorangan pada pasien seringkali dianggap bukan pekerjaan perawat, sehingga banyak perawat yang enggan bahkan terkesan malu untuk melaksanakanya. Baca entri selengkapnya »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan kesehatan masyarakat merupakan suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat (Effendy, 1998). Tujuan dari perawatan kesehatan masyarakat adalah memperoleh derajat kesehatan yang optimal bagi setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Perawatan kesehatan tersebut lebih menekankan kepada upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan terhadap berbagai gangguan kesehatan dan keperawatan, dengan tidak melupakan upaya pengobatan dan perawatan serta pemulihan bagi yang sedang menderita penyakit maupun dalam kondisi pemulihan terhadap penyakit.
Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan, misal ibu hamil, ibu setelah melahirkan, ibu menyusui, ibu nifas, bayi, balita dan usia lanjut. Pada periode antenatal, ibu hamil harus dipersiapkan baik secara fisik maupun psikologis untuk merawat bayinya. Perawatan antenatal yang baik yaitu dengan memberikan perhatian yang khusus pada persiapan payudara serta putting susu dalam mengantisipasi permasalahan pemberian ASI pada bayi. Terdapat kesulitan psikologi maupun kesulitan fisik yang mencegah ibu menyusukan bayinya. Terdapat kesulitan psikologis maupun kesulitan fisik yang mencegah ibu menyusukan bayinya. Menurut Soetjiningsih (1997) bahwa persiapan psikologis ibu untuk menyusui pada saat kehamilan sangat berarti, karena keputusan atau sikap ibu yang positif harus sudah ada pada saat kehamilan atau bahkan jauh sebelumnya. Sikap ibu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain adat atau kebiasaan atau kepercayaan menyusui di daerah masing-masing, pengalaman menyusui sebelumnya, pengetahuan tentang manfaat ASI, kehamilan diinginkan atau tidak. Dukungan dari perawat atau petugas kesehatan, teman atau kerabat dekat sangat dibutuhkan terutama pada ibu yang baru pertama kali hamil. Cara terbaik dalam mempersiapkan pemberian ASI adalah keadaan kejiwaan ibu yang sedapat mungkin tenang dan tidak menghadapi banyak masalah. Baca entri selengkapnya »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pegawai suatu instansi pada dasarnya merupakan satu-satunya sumber
utama organisasi yang tidak dapat digantikan oleh sumber daya lainnya, sebab
bagaimanapun baiknya suatu organisasi, lengkapnya fasilitas serta sarana tidak
akan bermanfaat tanpa adanya pegawai yang mengatur, menggunakan dan
memeliharanya. Keberhasilan instansi dalam mencapai tujuan merupakan salah
satu cerminan dari organisasi yang efektif. Pegawai negeri sebagai aparatur
pemerintah dan sebagai abdi masyarakat diharapkan selalu siap menjalankan
tugas dengan baik dan siap melayani masyarakat dengan baik pula.
Seorang pegawai negeri dituntut untuk selalu bekerja dengan semangat
yang tinggi sehingga dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tidak
terkesan lamban, malas dan ogah-ogahan. Semangat kerja bagi pegawai negeri
diperlukan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Pegawai negeri di samping memiliki semangat kerja yang tinggi dituntut
pula untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kualitas
pelayanan adalah salah satu variabel yang cukup penting dalam pelaksanaan tugas
kemasyarakatan atau tugas pelayanan umum. Agar pegawai dapat memberikan
pelayanan yang baik kepada masyarakat, maka pegawai harus memiliki semangat kerja yang tinggi. Berkaitan dengan semangat kerja ini, Alex Nitisemito (1991 : Baca entri selengkapnya »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan Bangsa Indonesia adalah mewujudkan suatu
masyarakat adil dan makmur yang merata secara materiil maupun spiritual.
Disebutkan pula bahwa hakekat Pembanguan adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
Tujuan dan hakikat tersebut akan tercapai bila didukung partisipasi
masyarakat dalam prosesnya, termasuk pembangunan bidang kesejahteraan
anak UU No. 6 Tahun 1974 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan
sosial menyebutkan usaha kesejahteraan sosial dilakukan bersama-sama oleh
Pemerintah dan masyarakat.
Krisis moneter yang berkepanjangan di Negara kita telah banyak
menyebabkan orang tua dan keluarga mengalami keterpurukan ekonomi
akibat pemutusan hubungan kerja atau kehilangan pekerjaan, menurunnya
daya beli serta harga bahan pokok yang melambung, sehingga keluarga tidak
mampu memenuhi hak dan kebutuhan anak. Akibat lebih jauh yaitu
banyaknya anak yang terpaksa harus meninggalkan orang tua, rumah dan
sekolah guna mengais atau mencari nafkah dijalanan sehingga mereka
menjadi anak terlantar yang putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Dengan keadaan seperti ini maka anak-anak yang putus sekolah (Drop
Out) karena ketiadaan biaya maka mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi sehingga banyaknya pengangguran dan anak anak
terlantar di kota Semarang akan lebih meningkat bahkan mereka juga dapat
menjadi anak jalanan yang hidup di jalan tanpa pengasuhan dan pengawasan
dari orang tua nya sendiri. Bagi anak-anak yang seperti itu langkah baiknya
mereka tetap dalam suatu lembaga sosial, misalnya mereka berada dalam
Panti Asuhan atau pun Lembaga Sosial yang dapat menjamin dan membantu
mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Panti asuhan ini dapat
membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mengasuh,
mendidik, membimbing, mengarahkan, memberikan kasih sayang serta
memberikan ketrampilan-ketrampilan yang dapat menjadi bekal masa depan
anak-anak tersebut.
Negara, Pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua berkewajiban
dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (Pasal
20 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 ). Jadi dari sini
jelas yang harus mengusahakan perlindungan terhadap anak adalah setiap
anggota masyarakat sesuai dengan kemampuan masing-masing, dengan
berbagai macam usaha dalam situasai dan kondisi tertentu termasuk anak
terlantar. Anggota masyarakat, Bangsa dan lembaga-lembaga kemasyarakatan
lainnya seperti panti asuhan juga ikut serta bertanggung jawab terhadap
perlindungan anak yang terlantar. Baca entri selengkapnya »

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan terutama di bidang kesehatan secara tidak
langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk serta
meningkatkan usia harapan hidup Indonesia di tahun 2000 yaitu sekitar 64,5
tahun. menurut UU no. 13 tahun 1998 meskipun tidak sekaligus hal ini berarti
peningkatan mutu kehidupan akan menimbulkan perubahan struktur penduduk
dan sekaligus menambah jumlah penduduk berusia lanjut (Arisman, 2004: 76).
Kesehatan dan gizi merupakan hak asasi manusia dan merupakan faktor
yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Dengan pesatnya
perkembangan IPTEK yang meliputi berbagai bidang termasuk kesehatan telah
dirumuskan paradigma sehat di mana perencanaan dan pelaksanaannya
pembangunan di semua sektor agar mempertimbangkan dampak positif dan
dampak negatif pada status kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Untuk
mewujudkan paradigma sehat tersebut telah ditetapkan Visi dan Misi Indonesia
sehat 2010. Seiring kemajuan tingkat perawatan kesehatan dan penurunan jumlah
kelahiran, jumlah penduduk usia lanjut juga semakin meningkat. Berdasarkan dari
data Badan Pusat Statistik jumlah populasi usia lanjut di Indonesia yaitu
sejumlah 14.439.967 orang atau 7,18 % . Bahwa jumlah usia lanjut di Indonesia
semakin bertambah akan membawa pengaruh besar di dalam pengelolaan
masalah kesehatannya dan kesejahteraannya.(Republika,2005)
Saat ini angka kesakitan akibat penyakit degeneratif meningkat jumlahnya di
samping masih ada kasus penyakit infeksi dan kekurangan gizi lebih kurang dari 2
74% usia lanjut menderita penyakit kronis. Adapun lima utama penyakit yang
banyak diderita adalah anemia (50%), ISPA (12,2%), kanker (12,2%), tbc (11,5%)
dan penyakit jantung pembuluh darah (29%). Masalah gizi yang sering diderita di
usia lanjut adalah kurang gizi, kondisi kurang gizi tanpa disadari karena gejala
yang muncul hampir tak terlihat sampai usia lanjut tersebut telah jatuh dalam
kondisi gizi buruk (Depkes,2003). Baca entri selengkapnya »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suatu hal yang paling menakutkan bagi seseorang saat didiagnosa dokter terkena diabetes mellitus (DM) atau kencing manis. Banyak penderita diabetes yang putus asa karena penyakitnya (Puspo, 2007). Seseorang yang kehilangan sebagian anggota tubuh maka akan mengalami trauma karena merasa dirinya tidak sempurna. Khususnya bagi pria yang masih berusia produktif, ia akan kehilangan jati dirinya sebagai seorang pria. Sekitar 14 tahun lalu Chaims terpaksa kehilangan pekerjaannya sebagai instruktur pilot jet latih tempur di Royal Air Force inggris. Penyebabnya karena ia diketahui menderita DM tipe 1 (Chaims, 2007).
Akhir-akhir ini DM banyak menarik perhatian karena prevalensinya yang semakin meningkat. Terdapat 110,4 juta penderita DM di dunia pada tahun 1994. Diperkirakan jumlah penderita DM di dunia akan mencapai 239,3 juta jiwa pada tahun 2010. Di Indonesia akan mencapai 5 juta jiwa pada tahun 2010 (Tjokroprawiro, 1996). Diperkirakan Prevalesi penyakit DM di Indonesia menurut penelitian berkisar 1,5 – 2,3 % dari penduduk diatas usia 15 tahun (PERKENI, 1993).
Berdasarkan data dari Puskesmas Gubug pada tahun 2005 jumlah penderita DM sebanyak 216 orang dan pada tahun 2006 penderita DM sebanyak 248 orang. Jumlah itu merupakan gabungan dari rawat inap dan rawat jalan sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan penderita DM. Rata-rata penderita DM tersebut adalah usia 45-54 tahun. Puskesmas Gubug merupakan Puskesmas rujukan dari Puskesmas di daerah sekitar, dengan pelayanan yang bersifat komprehensif baik rawat jalan maupun rawat inap bagi semua jenis penyakit yang ada di Puskesmas tersebut. DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan sehingga dapat menimbulkan masalah.
Penyakit DM dapat menimbulkan dampak masalah yang sangat kompleks dan luas. Masalah yang ditimbulkan bukan hanya dilihat dari segi medis saja, tetapi bisa meluas sampai kepada masalah ekonomi, sosial budaya, keamanan, dan ketahanan sosial (DEPKES RI 1990). Dampak terhadap psikologi dapat berupa marah, cemas, depresi, ketakutan, rasa bersalah atau rasa malu. Selain itu juga berdampak bagi tubuh yang berupa metabolik kontrol yang jelek ( Tjrokroprawiro, 1994). Baca entri selengkapnya »