BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI BP4 TEGAL

Posted: March 12, 2011 in Kesehatan Masyarakat

ARTIKEL

PENDAHULUAN

Penyakit TB Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkolosis, yang menyerang dari balita hingga usia lanjut. Penyakit Tuberkulosis Basil Tahan Asam Positif atau juga bisa disebut dengan TB Paru, sampai kini belum berhasil diberantas dan telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.1)

WHO melaporkan adanya 3 juta orang mati akibat TB Paru tiap tahun dan diperkirakan 5000 orang tiap harinya. Tiap tahun ada 9 juta penderita TB Paru baru dari 25% kasus kematian dan kesakitan di masyarakat diderita oleh orang-orang pada usia produktif yaitu dari 15 sampai 54 tahun. Di negara-negara berkembang miskin kematian TB Paru merupakan 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Daerah Asia tenggara menanggung bagian yang terberat dari beban TB Paru global yakni sekitar 38% dari kasus TB Paru di dunia.2)

Indonesia merupakan negara terbesar nomer tiga didunia setelah India dan Cina yang diperkirakan setiap tahunnya terjadi 583.000 kasus baru TB Paru, dengan kematian TB Paru sekitar 140.000 kasus. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 pasien TB Paru dan harapan 705 diantaranya bisa diobati sampai sembuh.1)

Tujuan pengendalian pengobatan adalah untuk menjamin ketekunan, keteraturan pengobatan sesuai jadwal pengobatan untuk menghindarkan penderita lalai berobat dan putus berobat sebelum waktunya dan mengurangi kemungkinan kegagalan pengobatan dan kekebalan terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, makan makanan berprotein tinggi, pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung (DOTS = Directly Observed Treatment Short Course) dan pengawasan konsumsi zat-zat makanan khususnya konsumsi protein oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO)4.

DOTS berarti pengobatan penderita dengan paduan obat jangka pendek disertai pengawasan menelan obat setiap hari. Di dalam DOTS arti pengawasan penuh adalah penderita minum obat dihadapan PMO yang dapat berasal dari kesehatan, keluarga penderita yang dapat dipercaya, kader kesehatan (Perkumpulan Pemberantasan Tubercolusis Indonesia) atau tokoh masyarakat / agama yang disegani penderita 4.

Salah satu keberhasilan dalam pengobatan penderita TB paru terletak pada Pengawas Menelan Obat (PMO), PMO dapat diambil dari orang yang tinggal satu rumah dengan penderita atau tinggal dalam Dasa Wisma. Selain itu juga dapat diawasi oleh anggota keluarga, kader dasa wisma, kader PPTI, PKK, guru, teman tokoh masyarakat dan petugas sosial kecamatan 5.

Selain itu kesembuhan penderita TB paru dapat ditentukan oleh perilaku dari penderita sendiri, banyak hal yang mempengaruhi perilaku seseorang antara lain : umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan seseorang. Selain itu umur seseorang akan mengalami kemunduran dalam sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah terserang berbagai penyakit. Tingkat pendidikan akan memberikan pengalaman seseorang terhadap sesuatu hal bagaimana cara mengatasi masalah yang dihadapi, sehingga dapat memilih jalan yang terbaik guna mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.  Pada umumnya, penderita yang terserang TB paru adalah golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Kebutuhan primer sehari-hari lebih penting dari pada pemeliharaan kesehatan. Hal ini dikarenakan kemiskinan dan jauhnya jangkauan pelayanan kesehatan dapat menyebabkan penderita tidak mampu membiayai transportasi kepelayanan kesehatan dan ini menjadi kendala dalam melakukan pengobatan, sehingga dapat mempengaruhi keteraturan berobat.

Adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai dan ketersediaan obat serta jumlah tenaga yang cukup belum cukup menjamin keberhasilan dalam pengobatan, keteraturan dan ketaatan penderita untuk berobat sampai dengan waktu pengobatan yang telah ditentukan merupakan faktor pendorong dalam keberhasilan pengobatan. Lamanya pengobatan TB paru akan mengurangi kepatuhan penderita dalam melakukan pengobatan sesuai demgan jadwal yang telah ditentukan 6) .

Dari data yang diperoleh di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru  (BP4) Tegal pada tahun 2004 diperoleh data bahwa jumlah penderita yang berkunjung di rawat jalan sebanyak 636 penderita dengan angka kejadian BTA positif sebanyak 331 penderita atau 52,1%, dengan angka keberhasilan pengobatan sebanyak 628 penderita atau 98,7% dan mengalami kekambuhan sebanyak 8 penderita atau 1,3%. Sedangkan pada tahun 2005 dari 941 penderita sebanyak 447 penderita BTA positif atau 47,5% dengan angka keberhasilan dalam pengobatan sebanyak 935 penderita atau 99,26% dan mengalami kekambuhan sebanyak 6 penderita atau 0,64% yang meliputi jumlah penderita dari kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian explanatory research melalui pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan sampel total populasi dengan jumlah responden 55 responden. Variabel Bebas umur, pendidikan, pekerjaan, pemakaian OAT sebelumnya, peran PMO dan keteraturan minum obat sedangkan variabel terikat adalah keberhasilan pengobatan TB paru. Analisa data dilakukan secara deskripif dan analitik dengan uji chi square.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Gambaran Umum Tempat Penelitian

BP4 merupakan kepanjangan dari Balai Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Paru-Paru mempunyi luas 5.396 m2. BP4 Tegal merupakan pusat rujukan dari penderita TB paru dari kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang. Rata–rata kunjungan pasien di rawat jalan sebanyak 73 dalam sehari yang buka dari jam 07.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB. Untuk pasien yang telah menjalankan pengobatan tahap intensif selama 6 bulan dengan jumlah 55 penderita pada periode bulan Januari 2006.

B.     Hasil Penelitian

Pada penelitian ini untuk menggambarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB Paru yang terdiri dari :  umur, pendidikan, pekerjaan, pemakaian OAT sebelumnya, peran PMO, keteraturan minum obat dan keberhasilan pengobatan. Dengan hasil penelitian sebagai berikut :

1. Kelompok Umur

Umur merupakan usia penderita Tb Paru BTA positif saat mulai menerima pengobatan TB dihitung berdasarkan jumlah ulang tahun yang dihitung dari kelahiran sampai saat wawancara. Dengan hasil penelitian seperti pada tabel 4.1 :

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Kelompok Umur

Umur frekuensi %
0-14 tahun

15-29 tahun

30-44 tahun

45-59 tahun

> 60 tahun

1

20

13

14

7

1,8

36,4

23,6

25,5

12,7

Jumlah 55 100

Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar TB paru menyerang pada kelompok umur 15-29 tahun sebesar 36,4% dan hanya sebagian kecil yang menyerang kelompok umur antara 0-14 tahun sebesar 1,8%.

2. Pendidikan

Pendidikan merupakan jenjang pendidikan formal yang berhasil ditempuh responden berdasarkan ijazah terakhir. Dengan hasil penelitian seperti pada tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan

Pendidikan frekuensi Prosentase (%)
Tidak sekolah

SD

SLTP

SMA

5

25

18

7

9,1

45,5

32,7

12,7

Jumlah

55 100

Pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berpedidikan SD sebesar 45,5% dan hanya sebagian kecil yang tidak sekolah sebesar 9,1%.

3. Jenis Pekerjaan

Pekerjaan merupakan kegiatan atau usaha yang dilakukan penderita untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari penderita TB paru. Dengan hasil penelitian seperti pada table 4.3 berikut :

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jenis Pekerjaan

Jenis Pekerjaan frekuensi Prosentase (%)
Tidak bekerja

PNS

Swasta

23

1

31

41,8

1,8

56,4

Jumlah

55 100

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar reponden bekerja sebagai karyawan swasta sebesar 56,4% dan hanya sebagian kecil yang bekerjaa sebagai PNS sebesar 1,8%.

4. Pemakaian OAT Sebelumnya

Pemakaian OAT sebelumnya merupakan pemakaian OAT pada penderita TB paru sebelum menjalani pengobatan di BP4 yang diklasifikasikan digunakan dan tidak digunakan pada penderita TB paru BTA positif. Dengan hasil penelitian seperti pada tabel 4.4 :

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi pemakaian OAT sebelumnya Pengobatan BP4 Tegal

Pemakaian OAT frekuensi Prosentase (%)
Ya

Tidak

8

47

14.

85.5

Jumlah

55 100

Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sebagian mayoritas responden sebelum menjalani pengobatan di BP4 Tegal belum menggunakan OAT sebesar 85,5%.

5. Peran PMO

Peran PMO adalah sebagai pengawas menelan obat pada penderita TB paru BTA positif yang diklasifikasikan ada dan tidak adanya PMO. Dengan hasil penelitian seperti pada tabel 4.5 :

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Peran PMO

Peran PMO

frekuensi %
Ada

Tidak ada

47

8

85,5

14,5

Jumlah

55 100

Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa mayoritas responden dalam menjalani pengobatan diawasi oleh PMO sebesar 85,5%.

6. Keteraturan Minum Obat

Keteraturan minum obat adalah suatu proses dimana penderita melakukan ketepatan waktu dalam pengobatan. dilihat dari teratur dan tidak teraturannya penderita menjalani pengobatan. Dengan hasil penelitian seperti pada tabel 4.6 :

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Keteraturan Minum Obat

Keteraturan Minum Obat frekuensi Prosentase (%)
Teratur

Tidak teratur

45

10

81,8

18,2

Jumlah 55 100

Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa mayoritas responden dalam menjalani pengobatan teratur dalam minum obat sesuai petunjuk dokter sebesar 81,8%.

7. Distribusi Frekuensi Keberhasilan Pengobatan

Keberhasilan pengobatan merupakan hasil pengobatan TB Paru dari uji bakteriologik dan klinik pada penderita TB paru BTA (+) yang menjalani pengobatan OAT selama 6 bulan yang telah menjadi BTA (-) pada fase awal. Dengan hasil penelitian seperti pada tabel 4.7:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Keberhasilan Pengobatan

Keberhasilan Pengobatan frekuensi Prosentasee (%)
Sembuh

Tidak sembuh

46

9

83,6

16,4

Jumlah

55 100

Dari tabel 4.7 dapat diketahui bahwa mayoritas responden dalam menjalani pengobatan sembuh sebesar 83,6% dan yang tidak sembuh sebesar 16,4%.

2. Analisis Bivariat

a.Hubungan antara Umur dengan Keberhasilan Pengobatan

Tabel 4.8 Hubungan antara Umur dengan Keberhasilan Pengobatan

Umur Keberhasilan Pengobatan Total X2 p
Sembuh Tidak sembuh
f % f % f %
0-44 tahun

> 44 tahun

27

18

79.4

85.7

7

3

20.6

14.3

34

21

100

100

0.347 0,725
Total 45 81,8 10 18,2 55 100

Dari tabel 4.8 diperoleh hasil bahwa responden untuk kategori umur 0-44 tahun ada 79.4% orang sembuh, 20.6% tidak sembuh, pada kelompok umur  >44 tahun 85.7% sembuh dan 14.3% tidak sembuh. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan  p value = 0,725 pada tingkat kesalahan (a) 5%. Hubungan yangb terjadi  antara umur dengan keberhasiln pengobatan TB paru sangat lemah, dengan nilai X2 sebesar 0,347.

b. Hubungan antara Pendidikan dengan Keberhasilan Pengobatan

Tabel 4.9 Hubungan antara Pendidikan dengan Keberhasilan Pengobatan

Pendidikan Keberhasilan Pengobatan Total X2 p
Sembuh Tidak sembuh
f % f % f %
Tidak sekolah dan SD

SLTP dan SMA

27

18

90

72

3

7

10

28

30

25

100

100

2,970 0.158
Total 45 81,8 10 18,2 55 100

Dari tabel 4.9 diperoleh hasil bahwa responden yang tidak sekolah dan pendidikan SD dapat sembuh sebesar 90% dan tidak sembuh 10%, untuk pendidikan SLTP dan pendidikan SMA dapat sembuh sebesar 72% dan tidak sembuh sebesar 28%.

Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan  p value = 0,158 pada tingkat kesalahan (a) 5%. Hubungan yang terjadi  antara pendidikan dengan keberhasilan pengobatan TB paru sangat lemah, dengan nilai X2 sebesar 2,970.

c. Hubungan antara Pekerjaan dengan Keberhasilan Pengobatan

Tabel 4.10 Hubungan antara Pekerjaan dengan Keberhasilan Pengobatan

Pekerjaan Keberhasilan Pengobatan Total X2 p
Sembuh Tidak sembuh
f % f % f %
Tidak bekerja

PNS dan Swasta

20

25

87

78.1

3

7

13

21.9

23

32

100

100

0.702 0,494
Total 45 81,8 10 18,2 55 100

Dari tabel 4.10 diperoleh hasil bahwa responden yang tidak bekerja sembuh sebesar 87% dan tidak sembuh 13%, responden yang bekerja sebagai PNS dan sebagai karyawan swasta 78,1% dapat sembuh dan 21,9% tidak sembuh.

Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan  p value = 0,494 pada tingkat kesalahan (a) 5%. Hubungan yang terjadi antara pekerjaan dengan keberhasilan pengobatan TB paru sangat lemah, dengan nilai X2 sebesar 0,702.

d. Hubungan Pemakaian OAT Sebelumnya dengan Keberhasilan Pengobatan

Tabel 4.12 Hubungan Pemakaian OAT Sebelumnya dengan Keberhasilan Pengobatan

Pemakaian OAT sebelumnya Keberhasilan Pengobatan Total X2 p
Sembuh Tidak sembuh
f % f % f %
Ya

Tidak

4

41

50

87,2

4

6

50

12,8

8

47

100

100

6,371 0,029
Total 45 81,8 10 18,2 55 100

Dari tabel 4.12 diperoleh hasil bahwa responden yang memakai OAT sebelum menjalani pengobatan di BP4 Tegal sebesar 50% tidak sembuh dan yang sembuh sebesar 50% sedangkan yang  tidak memakai OAT sebelum menjalani pengobatan di BP4 Tegal mayoritas sembuh sebesar 87,2% dan yang tidak sembuh sebesar 12,8%.

Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pemakaian OAT sebelumnya dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan  p value = 0,029 pada tingkat kesalahan (a) 5%. Hubungan yang terjadi antara pemakaian OAT sebelumnya dengan keberhasilan pengobatan TB paru kuat, dengan nilai X2 sebesar 6,371.

e. Hubungan antara Peran PMO dengan Keberhasilan Pengobatan

Tabel 4.13 Hubungan antara Peran PMO dengan Keberhasilan Pengobatan

Peran PMO Keberhasilan Pengobatan Total X2 p
Sembuh Tidak sembuh
f % f % f %
Ada

Tidak ada

45

0

95,7

0

2

8

4,3

100

47

8

100

100

42,128 0,000
Total 45 81,8 10 18,2 55 100

Dari tabel 4.13 diperoleh hasil bahwa responden yang ada peran PMO saat menjalani pengobatan mayoritas sembuh sebesar 95,7% yang tidak sembuh sebesar 4,3% sedangkan yang  tidak terdapat peran PMO semuanya tidak sembuh sebesar 100%.

Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara peran PMO dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan  p value = 0,000 pada tingkat kesalahan (a) 5%. Hubungan yang terjadi antara peran PMOa dengan keberhasilan pengobatan TB paru kuat, dengan nilai X2 sebesar 42,128.

f. Hubungan antara Keteraturan Minum Obat dengan Keberhasilan pengobatan

Tabel 4.14 Hubungan antara Keteraturan minum obat dengan keberhasilan pengobatan

Kateraturan minum obat Keberhasilan Pengobatan Total X2 p
Sembuh Tidak sembuh
f % f % f %
Teratur

Tidak teratur

45

0

91,8

0

4

6

8,2

100

49

6

100

100

30,306 0,012
Total 45 81,8 10 18,2 55 100

Dari tabel 4.14 diperoleh hasil bahwa responden yang teratur menjalani pengobatan mayoritas sembuh sebesar 91,8% dan yang tidak sembuh 8,2% sedangkan responden yang tidak teratur menjalani pengobatan semuanya tidak sembuh sebesar 100%.

Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara peran PMO dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan  p value = 0,000 pada tingkat kesalahan (a) 5%. Hubungan yang terjadi antara peran PMO dengan keberhasilan pengobatan TB paru kuat, dengan nilai X2 sebesar 30,306.

C.    Pembahasan

1. Hubungan antara Umur dengan Keberhasilan Pengobatan

Penyakit TB paru banyak menyerang kelompok umur 15-29, mempunyai mobilitas yang tinggi sehingga kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial lebih besar dan mudah terpapar dari orang-orang yang menderita TB paru yang tidak aktif saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Cara penularan yang dapat terjadi karena saat berkomunikasi dan tanpa sadar ada air ludah yang masuk ke mulut lawan bicara atau saling bergantian alat makan. Hal ini sesuai dengan sebuah studi dari United State of Public Heath Service (UPSPHS) tahun 1970 menemukan bahwa kelompok usia 15-54 tahun lebih berisiko untuk terserang tuberkulosis 15.

Dari uji chi square diperoleh hasil bahwa tidak terdapat  hubungan yang signifikan antara umur dengan keberhasilan pengobatan. Meskipun pada usia tersebut mempunyai mobilitas yang tinggi tetapi tidak berhubungan dengan keberhasilan pengobatan kemungkinan karena sering terpapar oleh Mycobakterium tuberculosis sehingga mempunyai kekebalan secara aktif terhadap penyakit TB paru.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuni Wulandari (2005) yang mengemukakan bahwa umur tidak berhubungan keberhasilan pengobatan pada penderita TB paru BTA positif semakin lanjut umur seseorang belum tentu berhubungan dengan keberhasilan dalam pengobatan 16).

2. Hubungan antara Pendidikan dengan Keberhasilan Pengobatan

Mayoritas responden sekolah SD, hanya sebagian kecil yang tidak sekolah. Pendidikan seseorang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, pengetahuan tersebut dapat berasal dari menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal atau berasal dari informal seperti media elektronik (televisi), media cetak (Koran) atau teman, selain itu dapat juga pengetahuan tentang penyakit TB paru berasal dari penyuluhan kesehatan. Semakin tinggi pendidikan maka akan semakin mudah menerima sesuatu. Menurut pendapat Green bahwa tingkat kesehatan seseorang dapat ditentukan oleh tingkat pengetahuan atau pendidikan dari orang tersebut, sehingga semakin baik tingkat pengetahuan seseorang maka tingkat kesehatan orang tersebut juga akan semakin baik, pengetahuan dapat diperoleh dari lingkungan sekitar seperti media cetak, elektronika, dari penyuluhan yang dilakukan petugas kesehatan dan lain-lain 12.

Dari uji chi square diperoleh hasil bahwa tidak ada  hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan keberhasilan pengobatan. Meskipun sebagian besar responden pernah sekolah tapi hal ini tidak berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB paru kemungkinan hal ini disebabkan responden sama-sama tidak pernah mendapat penyuluhan tentang penyakit TB paru, sehingga pengetahuan tentang TB paru untuk yang sekolah dan tidak sekolah sama. Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan pada diri seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan individu, dan masyarakat. di dalamnya seseorang menerima atau menilai informasi, sikap, maupun praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat.7)

Hal ini sesuai dengan penelitian Yuli Wulandari (2005) yang menyatakan bahwa pendidikan tidak berhubungan dengan keberhasilan pengobatan, semakin tinggi pendidikan seseorang belum tentu berhubungan dengan keberhasilan dalam pengobatan TB paru.

3. Hubungan antara Pekerjaan dengan Keberhasilan Pengobatan

Responden sebagian besar bekerja sebagai karyawan swasta yang kemungkinan penghasilan kurang, ekonomi yang kurang  menyebabkan berkurangnya kemampuann penderita untuk memperoleh gizi baik dan seimbang. Selain itu karena ekonomi yang kurang menyebabkan penderita tidak mampu memperoleh pelayanan kesehatan secara memadahi. Penderita lebih mementingkan kebutuhan primer sehari-hari dari pada pemeliharaan kesehatan. Status ekonomi yang rendah ini cenderung menjadi erat hubungannya dengan faktor-faktor lain seperti kepadatan penduduk, keadaan lingkungan yang kurang memadai, serta menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi kronis dan malnutrisi (kurang gizi) akibat dari tidak teerpenuhinya kebutuhan gizi yang seimbang dan memadahi 17).

Dari uji chi square diperoleh hasil bahwa tidak ada  hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan keberhasilan pengobatan. Tidak adanya hubungan antara pekerjaan dengan keberhasilan pengobatan karena adanya subsidi dari pemerintah untuk Obat Ati Tuberkulosis (OAT) yang di salurkan lewat puskesmas, sehingga penderita tidak lagi membeli OAT dan mengeluarkan biaya yang banyak.

Hal ini sejalan dengan penelitian Yuni Wulandari (2005) menyatakan bahwa TB paru jenis pekerjaan seseorang belum tentu berhubungan dengan keberhasilan pengobatan karena dalam satu keluarga biasanya mendapat sumber penghasilan sampingan, hasil dari wiraswasta atau berdagang sesuatu. 18)

Pendidikan yang rendah sehingga menghasilkan tingkat ekonomi yang rendah pula karena keterbatasan pemilihan untuk memperoleh kesempatan kerja  Dan terdapat hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan tingkat kesehatan seseorang. Pada masyarakat dengan tingkat pendapatan tinggi lebih mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk melakukan pengobatan dari pada orang dengan penghasilan yang kurang 19).

4. Hubungan Pemakaian OAT Sebelumnya dengan Keberhasilan Pengobatan

Sebagian besar responden sebelum menjalani pengobatan tidak memakai OAT, pemakaian OAT sebelumnya dapat menyebabkann resistesi terhadap pengobatan selanjutnya, sehingga dikhawatirkan akan mengalami kegagalan dalam pengobatan selanjutya. Pemakaian OAT sebelumnya diartikan sebagai OAT yang diberikan sebelum penderita menjalani pengobatan di BP4 Tegal dengan pegobatan selama 6-8 bulan, responden yang telah mengkonsumsi OAT sebelum menjalani pengobatan sebelumnya merupakan pasien rujukan dari daerah dan telah mendapatkan terapi tetapi mengalami kegagalan. Pemakaian sesuai dengan anjuran Depkes selama 6 sampai dengan 8 bulan unntuk mendapatkan hasil yang optimal 7.

Pada uji chi square diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemakaian OAT dengan keberhasilan dalam pengobatan. Hal ini kemungkinan karena sebagian dari responden tidak memakai OAT sebelum menjalani pengobatan sehingga penderita belum mengalami resistensi terhadap OAT yang diberikan selama pengobatan., makin lama makin sering dan makin teratur pemakaian OAT akan makin meningkat kemungkinan resisten OAT terhadap mycobacterium tuberculosis 7). Pemakaian OAT secara teratur berkaitan untuk mencegah resistensi OAT terhadap Mycobacterium tuberkulosis. Penderita yang teratur minum OAT satu bulan atau lebih mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi untuk menjadi kebal terhadap obat yang diberikan.

Tidak sejalan dengan penelitian-penelitian yang menyatakan bahwa pemakaian OAT berhubungan dengan keberhasilan pengobatan penderita TB paru dan terdapat hubungan sejalan semakin baik pasien dalam minum OAT maka semakin baik tingkat keberhasilan semakin tinggi 16.

5. Hubungan antara Peran PMO dengan Keberhasilan Pengobatan

Mayoritas responden terdapat peran PMO selama menjalani pengobatan sebagai pengawas dalam menelan obat. Orang yang PMO selama pengobatan berlangsung yang berasal dari keluarga terdekat seperti (ayah, istri atau anak), selain itu biasanya PMO dari keluaarga dipilih yang mengerti tentang ilmu penyakit khususnya TB paru atau yang mempunyaii pendidikan tinggi. PMO mempunyai tugas untuk mengawasi penderita TB Paru agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan, memberi dorongan kepada penderita agar menelan obat secara teratur, mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu-waktu yang telah ditentukan, memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB Paru yang mempunyai gejala-gejala tersangka TB Paru segera memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan. Sehingga penderita dengan adanya PMO ada yang mengingatkan dalam minum obat sehari-hari yang membantu keberhasilan dalam pengobatan TB paru 7.

Dari uji chi square diperoleh hasil bahwa ada  hubungan yang bermakna antara peran PMO dengan keberhasilan pengobatan. Peran PMO dengan keberhasilan pengobatan sangat penting, karena penderita selama menjalai pengobatan yang panjang kemungkinan ada rasa bosan harus setiap hari mengkonsumsi obat, sehigga dikhawatirkan terjadi putus obat atau lupa minum obat karena putus asa penyakitnya tidak sembuh-sembuh. Peran PMO diharapkan dapat mencegah putus obat karena bila terjadi untuk pengobatan selanjutnya memerlukan waktu yag lebih panjang. Terlaksananya peran PMO dengan baik yaitu untuk menjamin ketekunan, keteraturan pengobatan, menghindari putus pengobatan sebelum obat habis, mencegah ketidak sembuhan pengobatan, memantau konsumsi makanan penderita TB paru dalam hal ini protein 3.

Peran PMO dalam keberhasilan pengobatan mempunyai hubungan yang erat dan terdapat hubungan sejalan semakin baik PMO dalam menjalankann tugasnya maka keberhasilan dalam pengobatan penyakit TB paru akan semakin berhasil dan hubungan tersebut yang cukup kuat. Biasanya PMO diambil dari anggota keluarga terdekat 19).

6. Hubungan antara Keteraturan Minum Obat dengan Keberhasilan pengobatan

Sebagian besar responden teratur dalam mengkonsumsi obat sesuai petunjuk dokter. Hal ini karena adanya keinginan responden untuk sembuh tinggi sehingga penderita mengkosumsi OAT secara terarur hal ini juga adaya peran PMO selama pengobatan yang mengingatkan unntuk selalu mengkonsumsi obat dan kontrol secara teratur. Menurut Green perilaku ketaatan seseorang dalam minum obat dan mencari kesembuhan atas penyakitnya salah satunya dipengaruhi oleh faktor pendorong dalam diri seperti pengetahuan orang tersebut terhadap penyakit yang diderita 12.

Dari uji chi square diperoleh hasil bahwa ada  hubungan yang bermakna antara keteraturan minum obat dengan keberhasilan pengobatan. Responden mengkonsumsi obat sesuai aturan yang diberikan selami 6 enam berurut-turut tanpa putus, keteraturan minum obat diukur sesuai dengan petunjuk pelaksanaan yang telah ditetapkan yaitu dengan pengobatan lengkap sampai dalam jangka waktu pengobatan selama 6-8 bulan. Keteraturan pengobatan apabila kurang dari 90% maka akan mempengaruhi penyembuhan. OAT harus diminum teratur sesuai dengan jadwal, terutama pada fase pengobatan awal guna menghindari terjadinya ketidak sembuhan pengobatan serta terjadinya kekambuhan.6

Menurut pendapat Green bahwa perilaku kesehatan atau tingkat kesehatan seseorang ditentukan oleh sikap seseorang terhadap obyek kesehatan. Semakin baik sikap seseorang terhadap kesehatan maka tingkat kesehatan seseorang tersebut juga akan semakin baik. Ketaatan seseorang dalam minum obat dipengaruhi oleh sikap orang tersebut terhadap penyakit yang diderita 12.

SIMPULAN DAN SARAN

A.    SIMPULAN

Berdasarkan hasil peennelitian factor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pegobatan TB paru dii BP4 Tegal, dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

1.      Umur responden sebagian besar termasuk kelompok umur antara 15-29 tahun sebesar 36,4%, tingkat pendidikan sebagian besar sekolah SD sebesar 45,5%, pekerjaan sebagian bekerja sebagai karyawan swasta sebesar 56,4%, sebelum menjalani pengobatan di BP4 Tegal belum mendapatkan OAT sebelumnya sebesar 85,5%.Mayoritas responden dalam menjalani pengobatan didampingi PMO sebesar 85,5%. Mayoritas  responden teratur dalam menjalani pengobatan sebesar 91,8%. Mayoritas responden yang menjalani pengobatan dapat sembuh sebesar 81,8%.

2.      Tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan keberhasilan pengobatan TB paru (p=0,725).

3.      Tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan keberhasilan pengobatan TB paru (p=0,158)

4.      Tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan keberhasilan pengobatan TB paru (p=0,494)

5.      Ada hubungan yang bermakna antara pemakaian OAT sebelumnya dengan keberhasilan pengobatan TB paru ( p=0,029)

6.      Ada hubungan yang bermakna antara peran PMO dengan   keberhasilan pengobatan TB paru. (0,000)

7.      Ada hubungan yang bermakna antara keteraturan minum obat dengan keberhasilan pengobatan TB paru (p=0,000)

B. SARAN

Untuk BP4 disarankan agar selalu memotivasi pasien melalui pendidikan kesehatan atau penyuluhan agar melakukan pengobatan secara teratur untuk keberhasilan dalam pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

1.            Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penangulangan Tuberkulosis. Jakarta.
2.            WHO. TB Control in the Workplace, Report of an Intercontry Consultan, New Delphi. 2004. Depkes 2002, http://www.depkes.go.id/index.php?option2 articles&arcid=154&item=3, 20 Mei 2004.
3.            Depkes.RI. 1993. Pedoman Penemuan dan Pengobatan Penderita TB Paru. Jakarta. Depkes.
4.            Depkes RI. 2001. Buku Petunjuk Praktis Bagi Petugas dan Pelaksana Penanggulangan TBC di Unit Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Depkes.
5.            Kanwil Depkes Propinsi Jateng. 2000. Buku Pedoman Bagi Pengawas Menelan Obat. Semarang. P3M
6.            Nadesul, Hendrawan. 1996. Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan TB Paru. Jakarta : Puspas Swara.
7.            Muharman Harun, Ella Sutiana. 2002. Tuberkulosis Klinis.  Widya Medika.. Jakarta
8.            W. Herdin Subuan, Nursalam. M. Panggabean. S.P.1997.. Gulton. Ilmu Penyakit Demam. Jakarta.
9.            Dep Kes RI 1997. Pedoman Penyakit Tuberkulosis Dan Penanggulangannya. Jakarta . Depkes
10.        John Crofson. 2001. Norman Horne Fredmiller. Tuberkulosis Klinis. Widya Medika. Jakarta.
11.        Depkes RI. 1993. Pedoman Tuberkulosis Paru. Jakarta.
12.        Soekidjo, Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
13.        Soekidjo Notoadmodjo. 2002. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta. Edisi Revisi. PT. Rineka Cipta.
14. Bhisma murti. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Jogyakarta.
15.        B.Y Yan..1992. Anti Tuberculosis Chemotherapy And It’s Rotation to Tuberculosis Control In China. Pros 12th. Asia Pasifik Congress an desease of the chest.. .
16.        Mangkunegara, H dan Suryatenggara W. 1994. Pedoman Praktisi Diagnosa dan Penatalaksana Tuberkulosis Paru. Cetakan ke-2. Jakarta : Yayasan Penerbit IDA.
17.        Dahlan Z.1997. Diagosa dann Penataksanaan Tberkulosis. Cermin Dunia Kedokteran., 115 : 8-12.
18. Almatsier. M. Idris F.2000 The Involment of the private Practioness an Tuberculosis Control Program Throught DOTS Strategy : A Discourse. Majalah Kesehatan. 50 : 497-498.
19. Wukir Sari. Skripsi 2005. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap PMO  Dengan Pencegahan Penyakit Tuberculosis Paru Di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang. UNIMUS. Semarang.
20.        Warijan.1991. Tes gaya hasil objektif IKIP Pres. Semarang.
21.        Wardoyo. 1997. Waspadai Ancaman Kesehatan Kita. Aneka Ilmu. Solo

(download komplet : kti bab1-3, bab4-5, artikel)

kes (286)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s