ANALISIS PENGARUH EFISIENSI MODAL KERJA, LIKUIDITAS, DAN SOLVABILITAS TERHADAP PROFITABILITAS (Studi Kasus Pada Industri Barang Konsumsi Di Bursa Efek Jakarta)

Posted: March 13, 2011 in Keuangan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Modal kerja merupakan masalah pokok dan topik penting yang sering kali
dihadapi oleh perusahaan, karena hampir semua perhatian untuk mengelola modal kerja
dan aktiva lancar yang merupakan bagian yang cukup besar dari aktiva. Modal kerja
dibutuhkan oleh setiap perusahaan untuk membelanjai operasinya sehari-hari, misalnya :
untuk memberikan persekot pembelian bahan mentah, membiayai upah gaji pegawai,
dan lain-lain, dimana uang atau dana yang dikeluarkan tersebut diharapkan dapat
kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu singkat melalui hasil penjualan
produksinya. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk selalu meningkatkan efisiensi
kerjanya sehingga dicapai tujuan yang diharapkan oleh perusahaan yaitu mencapai laba
yang optimal.
Salah satu masalah kebijaksanaan keuangan yang dihadapi perusahaan adalah
masalah efisiensi modal kerja. Manajemen modal kerja yang baik sangat penting dalam
bidang keuangan karena kesalahan dan kekeliruan dalam mengelola modal kerja dapat
mengakibatkan kegiatan usaha menjadi terhambat atau terhenti sama sekali. Sehingga,
adanya analisis atas modal kerja perusahaan sangat penting untuk dilakukan untuk
mengetahui situasi modal kerja pada saat ini, kemudian hal itu dihubungkan dengan
situasi keuangan yang akan dihadapi pada masa yang akan datang. Dari informasi ini
dapat ditentukan program apa yang harus dibuat atau langkah apa yang harus diambil
untuk mengatasinya.
Pengelolaan modal kerja merupakan hal yang sangat penting dalam perusahaan,
karena meliputi pengambilan keputusan mengenai jumlah dan komposisi aktiva lancar
dan bagaimana membiayai aktiva ini. Perusahaan yang tidak dapat memperhitungkan
tingkat modal kerja yang memuaskan, maka perusahaan kemungkinan mengalami
insolvency (tak mampu memenuhi kewajiban jatuh tempo) dan bahkan mungkin
terpaksa harus dilikuidasi. Aktiva lancar harus cukup besar untuk dapat menutup hutang
lancar sedemikian rupa, sehingga menggambarkan adanya tingkat keamanan (margin
safeti) yang memuaskan. Sementara itu, jika perusahaan menetapkan modal kerja yang
berlebih akan menyebabkan perusahaan overlikuid sehingga menimbulkan dana
mengaggur yang akan mengakibatkan inefisiensi perusahaan, dan membuang
kesempatan memperoleh laba.
Modal kerja memiliki sifat yang fleksibel, besar kecilnya modal kerja dapat
ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan perusahaan. Menetapkan modal kerja yang
terdiri dari kas, piutang, persediaan yang harus dimanfaatkan seefisien mungkin.
Besarnya modal kerja harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan, karena baik kelebihan
atau kekurangan modal kerja sama-sama membawa dampak negatif bagi perusahaan.
Modal kerja yang berlebihan terutama modal kerja dalam bentuk uang tunai dan
surat berharga dapat merugikan perusahaan karena menyebabkan berkumpulnya dana
yang besar tanpa penggunaan secara produktif. Dana yang mati, yaitu dana-dana yang
tidak digunakan menyebabkan diadakannya investasi dalam proyek-proyek yang tidak
diperlukan dan yang tidak produktif. Disamping itu kelebihan modal kerja juga akan
menimbulkan inefisiensi atau pemborosan dalam operasi perusahaan.
Indikator adanya manajemen modal kerja yang baik adalah adanya efisiensi
modal kerja (Tunggal,1995:165). Modal kerja dapat dilihat dari perputaran modal kerja
(working capital turnover), perputaran piutang (receivable turnover), perputaran
persediaaan (inventori turnover). Perputaran modal kerja dimulai dari saat kas
diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Makin
pendek periode perputaran modal kerja, makin cepat perputarannya sehingga perputaran
modal kerja makin tinggi dan perusahaan makin efisien yang pada akhirnya rentabilitas
semakin meningkat.
Dalam penentuan kebijakan modal kerja yang efisien, perusahaan dihadapkan
pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas
(Van Horne,1997: 217). Jika perusahaan memutuskan menetapkan modal kerja dalam
jumlah yang besar, kemungkinan tingkat likuiditas akan terjaga namun kesempatan
untuk memperoleh laba yang besar akan menurun yang pada akhirnya berdampak pada
menurunnya profitabilitas. Sebaliknya jika perusahaan ingin memaksimalkan
profitabilitas, kemungkinan dapat mempengaruhi tingkat likuiditas perusahaan. Makin
tinggi likuiditas, maka makin baiklah posisi perusahaan di mata kreditur. Oleh karena
terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa perusahaan akan dapat membayar
kewajibannya tepat pada waktunya. Di lain pihak ditinjau dari segi sudut pemegang
saham, likuiditas yang tinggi tak selalu menguntungkan karena berpeluang
menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk
berinvestasi dalam proyek-proyek yang menguntungkan perusahaan (Tunggal,1995 :
157).
Selain masalah tersebut di atas perusahaan juga dihadapkan pada masalah
penentuan sumber dana. Pemenuhan kebutuhan dana suatu perusahaan dapat dipenuhi
dari sumber intern perusahaan, yaitu dengan mengusahakan penarikan modal melalui
penjualan saham kepada masyarakat atau laba ditahan yang tidak dibagi dan digunakan
kembali sebagai modal. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dapat juga dipenuhi
dari sumber ekstern yaitu dengan meminjam dana kepada pihak kreditur seperti bank,
lembaga keuangan bukan bank, atau dapat pula perusahaan menerbitkan obligasi untuk
ditawarkan kepada masyarakat.
Pembiayaan dengan utang atau leverage keuangan menurut Brigham dan
Houston (2001: 84) memiliki tiga implikasi penting, yaitu: Pertama, memperoleh dana
melalui utang membuat pemegang saham dapat mempertahankan pengendalian atas
perusahaan dengan investasi yang terbatas. Kedua, kreditur melihat ekuitas atau dana
yang disetor pemilik untuk memberikan marjin pengaman, sehingga jika pemegang
saham hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka risiko perusahaan
sebagian besar ada pada kreditur. Ketiga, Jika perusahaan memperoleh pengembalian
yang lebih besar atas investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman dibanding
pembayaran bunga, maka pengembalian atas modal pemilik akan lebih besar. Sementara
itu Sawir (2001: 11) menyebutkan bahwa leverage dapat digunakan untuk meningkatkan
hasil pengembalian pemegang saham, tetapi dengan risiko akan meningkatkan kerugian
pada masa-masa suram.
Jika perusahaan menggunakan lebih banyak hutang dibanding modal sendiri
maka tingkat solvabilitas akan menurun karena beban bunga yang harus di tanggung
juga meningkat. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas.
Pada dasarnya, jika perusahaan meningkatkan jumlah utang sebagai sumber
dananya hal tersebut dapat meningkatkan risiko keuangan. Jika perusahaan tidak dapat
mengelola dana yang diperoleh dari utang secara produktif, hal tersebut dapat
memberikan pengaruh negatif dan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas
perusahaan. Sebaliknya jika utang tersebut dapat dikelola dengan baik dan digunakan
untuk proyek investasi yang produktif, hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang
positif dan berdampak terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan.
Siwi (2005) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh efisiensi modal
kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan
real estate yang go publik dibursa efek Jakarta pada tahun 1998–2002. Rasio-rasio yang
digunakan adalah rasio working capital turnover (WCT), current ratio, debt to equity
ratio(DTA) dan return on investment (ROI). Sampel yang digunakan sebanyak 37
perusahaan property dan real estate yang sudah listing dari tahun 1998-2002. Dalam
penelitiannya Siwi (2005) menggunakan analisis regresi berganda linier yang hasilnya
menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel efisiensi modal kerja (working capital
turnover) dan solvabilitas (total debt to total capital assets) yang mempunyai pengaruh
terhadap profitabilitas (return on investment) sedangkan variabel likuiditas (current
ratio) tidak mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas (return on investment).
Sedangkan secara simultan semua variabel berpengaruh terhadap profitabilitas. Dalam
penelitian ini yang membedakan dengan penelitian Siwi (2005) terletak pada sampel
dari perusahaan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan industri barang konsumsi
di Bursa Efek Jakarta tahun 2001-2005 dengan sampel sebanyak 34 perusahaan.
Faurani (2004) malakukan penelitian tentang analisis pengaruh modal kerja
terhadap profitabilitas dan rentabilitas pada Koperasi Dharma Wanita “Mandalika”
Mataram Nusa Tenggara Barat. Dalam penelitian ini menggunakan rasio-rasio
profitabilitas (profit margin on sales ratio), rentabilitas (profit margin ratio), modal
kerja (profit margin ratio). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah menggunakan metode statistik deskriptif, metode statistik inferensial dan metode
analisa korelasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa modal kerja tidak begitu
berpengaruh terhadap profitabilitas dan rentabilitas pada Koperasi Mandalika akan tetapi
dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Dani (2003) melakukan penelitian tentang pengaruh likuiditas, leverage dan
efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas (studi kasus pada PT Modern Toolsindo
Bekasi). Rasio keuangan yang digunakan adalah Current Ratio, Debt to Equyity Ratio
(DER), Working Capital Turnover (WCT) dan Return On Invesment. Alat analisis yang
digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Menggunakan 1 sampel perusahaan
dengan menganalisis neraca dan laporan laba rugi tahun 1997-2002. Dalam
penelitiannya Dani (2003) menggunakan analisis regresi linier berganda yang hasilnya
menunjukkan bahwa secara simultan faktor likuiditas, leverage dan efisiensi modal kerja
terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas PT
Modern Toolsindo. Sedangkan secara parsial hanya variabel leverage yang tidak
berpengaruh positif terhadap variabel profitabilitas. Dalam penelitian ini yang
membedakan dengan penelitian Dani (2003) terletak pada rasio-rasio yang digunakan.
Dalam penelitian ini rasio-rasio yang digunakan yaitu Working Capital Turnover
(WCT), Debt to Total Asset (DTA), Current Ratio dan Return On Invesment (ROI).
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Dani (2003) menggunakan rasio yang sama
dengan penelitian ini kecuali pada variabel solvabilitas, pada variabel solvabilitas
penelitian ini menggunakan rasio Debt to Earning Ratio (DER).
Indri Astuti (2003) melakukan penelitian mengenai pengaruh manajemen modal
kerja terhadap profitabilitas perusahaan automotive and allied product yang go public di
BEJ. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu likuiditas, tingkat hutang, efisiensi
modal kerja, tingkat kecukupan kas, tingkat perubahan hutang lancar dan profitabilitas.
Rasio yang digunakan antara lain likuiditas menggunakan rasio current ratio, tingkat
hutang menggunakan rasio leverage ratio, efisiensi modal kerja menggunakan rasio
working capital turnover (WCT), tingkat kecukupan kas menggunakan rasio cash ratio,
tingkat perubahan hutang lancar menggunakan rasio perubahan hutang lancar. Adapun
populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang bergerak dibidang sektor
industri automotive and allied products yang terdaftar di BEJ, yaitu sebanyak 18
perusahaan. Metode analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier
berganda. Hasilnya bahwa variabel independent likuiditas, leverage ( tingkat hutang),
efisiensi modal kerja, tingkat kecukupan kas (cash ratio), perubahan hutang lancar
diduga mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen yaitu Return On Invesment
(ROI) industri automotive and allied product tahun 2000-2003. Sedangkan secara
simultan terbukti mempunyai pengaruh yang signifikan dan secara parsial terbukti
bahwa variabel efisiensi modal kerja berpengaruh positif secara signifikan terhadap
profitabilitas dan perubahan hutang lancar berpengaruh negatif secara signifikan
terhadap profitabilitas (ROI). Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian
Indri Astuti (2003) terletak pada variable, rasio-rasio dan populasi. Indri Astuti
menggunakan variabel yang lebih banyak yaitu likuiditas, tingkat hutang, efisiensi
modal kerja, tingkat kecukupan kas, tingkat perubahan hutang lancar dan profitabilitas.
Sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan 4 variabel yaitu efisiensi modal
kerja menggunakan rasio working capital turnover, likuiditas menggunakan rasio
current ratio, solvabilitas menggunakan rasio debt to equity ratio (DTA) dan
profitabilitas menggunakan rasio return on investment (ROI). Adapun populasi dalam
penelitian ini adalah semua perusahaan yang bergerak di sektor industri barang
konsumsi yang terdaftar di BEJ yaitu sebanyak 35 perusahaan dari tahun 2001-2005.
Sedangkan alat analisis dalam penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
Indri Astuti (2003).
Berdasarkan studi pendahuluan pada industri barang konsumsi dapat diketahui
bahwa terdapat beberapa perusahaan yang memiliki jumlah modal kerja (WCT) yang
tinggi tetapi memiliki tingkat profitabilitas yang rendah dan beberapa perusahaan
memiiliki modal kerja (WCT) yang rendah tetapi memiliki tingkat profitabilitas yang
tinggi. Kenyataan tersebut menyimpang dari teori yang ada, dimana secara teori apabila
perusahaan industri barang konsumsi yang memiliki tingkat modal kerja (WCT) yang
tinggi maka tingkat profitabilitasnya juga tinggi.
Industri barang konsumsi menjadi industri yang penting bagi perkembangan
perekonomian bangsa. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya perusahaan-perusahaan
yang bergerak dalam industri barang konsumsi di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri
bahwasanya dalam proses produksi barang konsumsi dibutuhkan banyak sumber daya
termasuk di dalamnya sumber daya manusia. Oleh karena itu, industri barang kosumsi
memiliki peranan dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan pada
suatu negara.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada investor dan
calon investor untuk merumuskan kebijakan dalam melakukan investasi pada
perusahaan dalam sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Jakarta supaya tingkat
pengembalian dari penanaman investasi tersebut memperoleh hasil yang maksismum.
Berdasarkan gambaran tersebut menarik untuk diteliti mengenai “PENGARUH
EFISIENSI MODAL KERJA, LIKUIDITAS DAN SOLVABILITAS TERHADAP
PROFITABILITAS “(Studi Kasus Pada Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek
Jakarta).

1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang permasalahan maka masalah penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas industri barang
konsumsi di BEJ dan seberapa besar pengaruhnya ?
2. Adakah pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas industri barang konsumsi di BEJ
dan seberapa besar pengaruhnya?
3. Adakah pengaruh solvabilitas terhadap profitabilitas industri barang konsumsi di
BEJ dan seberapa besar pengaruhnya?
4. Adakah pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, solvabilitas terhadap profitabilitas
industri barang konsumsi di BEJ dan seberapa besar pengaruhnya?

1.3. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian

Untuk dapat melaksanakan penelitian ini dengan baik dan mengenai
sasaran, maka peneliti harus mempunyai tujuan, adapun tujuan dari penelitian ini
adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh efisiensi modal kerja, likuiditas, dan
solvabilitas terhadap profitabilitas, baik secara simultan maupun secara parsial
pada pada perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi yang go public di
BEJ tahun 2002 dan 2005.
b. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh efisiensi modal kerja likuiditas
solvabilitas terhadap profitabilitas, baik secara simultan maupun secara parsial
pada pada perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi yang go public di
BEJ tahun 2002 dan 2005.

2. Kegunaan Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan, antara lain:
1. Kegunaan secara teoritis
a. Bagi penulis sebagai bahan pembanding antara teori yang didapat di bangku
kuliah dan fakta di lapangan.
b. Bagi peneliti berikutnya penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
penelitian sejenis dan sebagai pengembangan penelitian lebih lanjut.
c. Bagi pembaca merupakan bahan informasi tentang pengaruh efisiensi modal
kerja, likuiditas, dan solvabilitas terhadap profitabilitas pada perusahaan
yang tergabung dalam industri barang konsumsi di Bursa Efek Jakarta.
2. Kegunaan secara praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi calon investor
sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan investasi di Bursa Efek Jakarta.

download komplet : bab1-5)

doc (98)

About these ads
Comments
  1. mahyuddin says:

    Saya sebagai seorang guru bahasa khususnya bahasa inggeris merasa senang bisa mendapatkan tesis yang ada pada blog anda. Saya berharap melalui tesis teresebut saya bisa meningkatkan pengetahuan saya sebagai seorang pengajar bahasa. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s