PERANAN PANTI ASUHAN WIRA ADI KARYA DI UNGARAN DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN ANAK MELALUI PENDIDIKAN NON FORMAL

Posted: April 10, 2011 in Pendidikan PKn

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan Bangsa Indonesia adalah mewujudkan suatu
masyarakat adil dan makmur yang merata secara materiil maupun spiritual.
Disebutkan pula bahwa hakekat Pembanguan adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
Tujuan dan hakikat tersebut akan tercapai bila didukung partisipasi
masyarakat dalam prosesnya, termasuk pembangunan bidang kesejahteraan
anak UU No. 6 Tahun 1974 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan
sosial menyebutkan usaha kesejahteraan sosial dilakukan bersama-sama oleh
Pemerintah dan masyarakat.
Krisis moneter yang berkepanjangan di Negara kita telah banyak
menyebabkan orang tua dan keluarga mengalami keterpurukan ekonomi
akibat pemutusan hubungan kerja atau kehilangan pekerjaan, menurunnya
daya beli serta harga bahan pokok yang melambung, sehingga keluarga tidak
mampu memenuhi hak dan kebutuhan anak. Akibat lebih jauh yaitu
banyaknya anak yang terpaksa harus meninggalkan orang tua, rumah dan
sekolah guna mengais atau mencari nafkah dijalanan sehingga mereka
menjadi anak terlantar yang putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Dengan keadaan seperti ini maka anak-anak yang putus sekolah (Drop
Out) karena ketiadaan biaya maka mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi sehingga banyaknya pengangguran dan anak anak
terlantar di kota Semarang akan lebih meningkat bahkan mereka juga dapat
menjadi anak jalanan yang hidup di jalan tanpa pengasuhan dan pengawasan
dari orang tua nya sendiri. Bagi anak-anak yang seperti itu langkah baiknya
mereka tetap dalam suatu lembaga sosial, misalnya mereka berada dalam
Panti Asuhan atau pun Lembaga Sosial yang dapat menjamin dan membantu
mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Panti asuhan ini dapat
membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mengasuh,
mendidik, membimbing, mengarahkan, memberikan kasih sayang serta
memberikan ketrampilan-ketrampilan yang dapat menjadi bekal masa depan
anak-anak tersebut.
Negara, Pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua berkewajiban
dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (Pasal
20 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 ). Jadi dari sini
jelas yang harus mengusahakan perlindungan terhadap anak adalah setiap
anggota masyarakat sesuai dengan kemampuan masing-masing, dengan
berbagai macam usaha dalam situasai dan kondisi tertentu termasuk anak
terlantar. Anggota masyarakat, Bangsa dan lembaga-lembaga kemasyarakatan
lainnya seperti panti asuhan juga ikut serta bertanggung jawab terhadap
perlindungan anak yang terlantar.

Berdasarkan pasal 31 ayat 1, Undang-undang Dasar 1945 disebutkan
bahwa, “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran” . Ini berarti
bahwa mendapatkan pengajaran atau pendidikan merupakan hak tiap warga
Negara Indonesia, baik dewasa atau anak-anak, termasuk mereka anak-anak
yang terlantar. Selain itu dalam Pasal 6 Undang-Undang Republik Indonesia
No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga menjelaskan bahwa
“Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berfikir dan
berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan
orang tua”. Hal ini sangat berlainan dengan anak-anak terlantar, yang orang
tua sibuk untuk mencari nafkah atau malah mereka sendiri tidak sempat untuk
mendapatkan pendidikan yang layak sebagaimana mestinya.
Anak terlantar juga berhak mendapatkan perlindungan dalam bidang
sandang, pangan, pendidikan dan kesehatan. Hal ini dikarenakan setiap anak
berhak mendapatkan pendidikan minimal usia 9 tahun. Dengan adanya
pengajaran diharapkan akan diperoleh pengetahuan, keterampilan serta
perilaku yang baik. Pada akhirnya ketrampilan ini akan dipergunakan untuk
membantu dirinya sendiri serta dapat membantu orang lain yang
membutuhkan.
Hidup menjadi anak terlantar bukanlah sebagai pilihan hidup yang
menyenangkan melainkan keterpaksanaan yang harus mereka terima karena
adanya sebab-sebab tertentu. Di lapangan banyak sekali anak terlantar yang
kurang mendapatkan perhatian untuk memenuhi kebutuhan termasuk di

dalamnya bidang kesejahteraan sosial. Dan fenomena anak terlantar ini
terdapat di kota-kota besar dimana saja tak terkecuali di Negara maju.
Keberadaan dan berkembangnya jumlah anak terlantar tersebut merupakan
persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama.
Mengacu pada Undang-Undang RI No. 4 tahun 1979 tentang
kesejahteraan anak pada bab I mengenai ketentuan umum pasal I yang
dimaksudkan kesejahteraan anak adalah :
Pertama, kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan dan
penghidupan anak yang dapat menjadi pertumbuhan dan
perkembangan dengan wajar, baik secara rohani, jasmani
maupun sosial. Kedua, usaha kesejahteraan sosial yang ditujukan
untuk menjamin terwujudnya kesejahteraan anak, terutama
terpenuhinya kebutuhan pokok anak ( UU No. 4 tahun 1979).

Pasal tersebut mengandung makna bahwa kesejahteraan anak berarti
tercapainya suatu tata kehidupan (lingkungan) dan penghidupan (pemenuhan
kebutuhan) yang secara biologis, psikologis dan sosial yang terkandung
didalamnya aspek spiritual dan kultural.
Anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sempurna,
untuk itu mereka membutuhkan pertolongan dari orang-orang dewasa yaitu
melalui pendidikan dan pelatihan. Tugas pendidikan pada dasarnya adalah
membantu anak untuk mencapai kedewasaan. Oleh karena itu sudah menjadi
kewajiban agar setiap orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Namun karena
berbagai keterbatasaan dan tuntutan perkembangan zaman, kadang-kadang
orang tua tidak mampu memberikan pendidikan yang sesuai dengan

19

kebutuhan anak untuk bekal hidup di masyarakat. Apalagi kondisi orang tua
anak terlantar yang serba kekurangan yang mengakibatkan anaknya mencari
nafkah dijalanan, bahkan putus sekolah karena orang tua mereka tidak
sanggup lagi membiayainya untuk sekolah. Oleh karena itu, mengakibatkan
jumlah anak terlantar meningkat khususnya di kota Semarang yaitu mencapai
2132 anak menurut data dari Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi Jawa
Tengah tahun 2006. Melihat fenomena itu pemerintah dan LSM
menyelenggarakan tempat-tempat penampungan bagi anak anak terlantar,
misalnya panti asuhan ataupun rumah singgah.
Banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena ketiadaan biaya
maka kita tidak bisa mengandalkan lagi pendidikan Formal dalam rangka
mengatasi permasalahan tersebut. Pendidikan non formal juga dapat
memegang peranan penting. Pendidikan Non formal sebagai pendidikan yang
diselenggarakan di luar sekolah baik yang di lembagakan maupun tidak
dilembagakan merupakan alternatife untuk memecahkan masalah tersebut.
Melalui pendidikan non formal maka akan tercipta tenaga kerja yang terampil
dan ada lapangan kerja baru karena dengan adanya pendidikan non formal,
lembaga-lembaga sosial misalnya Panti asuhan memberikan bekal kepada
mereka berupa ketrampilan.
Sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas manusia dapat
ditempuh melalui salah satu pelatihan ketrampilan, melalui pemberian
ketrampilan pada anak terlantar maka para anak asuh diharapkan mampu

mandiri untuk bekal mereka di masa depan atau pun dengan adanya
pemberian ketrampilan melalui pendidikan non formal mereka dapat belajar
untuk berwirausaha.
Anak-anak tersebut dapat menggunakan ketrampilan yang telah
mereka pelajari dan dengan ketrampilan yang mereka miliki, para anak asuh
dapat mampu menangani suatu pekerjaan sesuai jenis ketrampilan dan
bakatnya, dengan demikian pelatihan ketrampilan merupakan alternatife
menuju lapangan pekerjaan dan dapat mengurangi banyaknya anak terlantar di
Kota Semarang, dan pelatihan ketrampilan ini telah di berikan oleh Panti
Asuhan Wira Adi Karya kepada anak-anak terlantar yang berada di kota
Semarang, Karisenan Pati, Pekalongan, dan Batang.
Panti Asuhan Wira Adi Karya merupakan lembaga pelayanan
kesejahteraan bagi anak-anak terlantar. Di bawah Dinas Kesejahteraan Sosial,
Panti Asuhan ini bekerja. Panti Asuhan ini terletak di JL. Ki Sarino
Mangunpranoto No. 39 Ungaran. Organisasi sosial kemasyarakatan ini sangat
peduli dan menaruh pehatian yang sangat besar terhadap nasib anak-anak
terlantar, anak-anak kurang mampu yang berkelakuan baik di wilayah
Semarang, Karisidenan Pati, Pekalongan, dan Batang.
Sejak tahun 1979 sampai tahun 2003, ada 3329 anak yang dibina atau
di didik di Panti Asuhan ini. Pendidikan di Panti Asuhan Wira Adi Karya
dilakukan secara pendidikan non formal. Pendidikan non formal adalah

pendidikan yang teratur yang dilakukan dengan sadar dan tidak mengikuti
peraturan yang tetap dan ketat (Joesoef, 1992: 32).
Pemberdayaan anak terlantar adalah salah satu cara membekali anak
terlantar agar mereka mampu, berdaya, mandiri, dalam kapasitasnya untuk
memenuhi kebutuhannya sehingga mereka akan berkurang beraktifitas
dijalanan dan bahkan anak terlantar tidak menganggur lagi, untuk itu
pengembangan pelayanan ini, dapat dilakukan dengan memberikan bekal
melalui pemberian ketrampilan guna masa depan mereka.
Selain itu, masalah pemberdayaan anak terlantar dalam Panti Asuhan
Wira Adi Karya Ungaran juga diperlukan penanganan dan kebijakan yang
serius dari pegawai, hal ini dapat dilihat melalui peran aktif pegawai Panti
Asuhan Wira Adi Karya yang mampu mendorong anak untuk meningkatkan
dan mengembangkan prestasi sesuai dengan kemampuan. Selain dari pegawai,
mengentaskan anak terlantar melalui pemberdayaan ini perlu didukung oleh
semua pihak baik pemerintah, masyarakat, orang tua dan anak terlantar sendiri
agar berjalan dengan baik.
Kenyataan diatas, menarik untuk diadakan penelitian berkenaan
dengan pemberdayaan anak terlantar melalui pelatihan ketrampilan pada anak
asuh Panti Asuhan Wira Adi Karya.

Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti
permasalahan di atas dengan judul “PERANAN PANTI ASUHAN WIRA
ADI KARYA UNGARAN DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN ANAK
MELALUI PENDIDIKAN NON FORMAL”.

B. Identifikasi Masalah Dan Pembatasan Masalah

Semakin banyaknya anak-anak terlantar merupakan suatu masalah
yang harus di tangani sedini mungkin, mengingat anak-anak remaja
merupakan penerus Bangsa. Adapun penyebab anak-anak tersebut terlantar
adalah karena mereka tidak dapat melanjutkan sekolah sehingga mereka putus
sekolah (Droup Out). Melihat kenyataan sperti ini, maka pemerintah harus
melakukan tindakan agar anak-anak tersebut dapat diberdayakan dan dapat
mandiri untuk hidup nya sendiri.
Panti Asuhan sebagai lembaga sosial merupakan tempat yang paling
sesuai untuk menampung anak-anak terlantar yang berada di Karisidenan
Semarang, Pati dan Batang. Panti Asuhan ini bertugas menangani
permasalahan sekitar anak-anak terlantar dan anak-anak yang bermasalah
dalam hal pemberdayaan anak.
Salah satu pemberdayan yang di maksud adalah kesempatan untuk
memperoleh pendidikan atau pengajaran melalui pendidikan non formal.
Upaya tersebut tidak semudah ketika kita membalikkan telapak tangan,

23

melainkan diperlukan penanganan yang serius oleh pihak-pihak terkait, yakni
Pegawai Panti Asuhan, masyarakat serta Pemerintah.
Pembatasan masalah dalam penelitian ini terfokus pada peranan Panti
Asuhan Wira Adi Karya di Ungaran dalam upaya pemberdayaan anak melalui
pendidikan non formal, faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi
pengurus Panti Asuhan Wira Adi Karya dalam dalam upaya pemberdayaan
anak melalui pendidikan non formal dan mengenai persepsi atau respon
masyarakat terhadap upaya pemberdayaan anak melalui pendidikan non
formal yang dilakukan Pegawai Panti Asuhan.

C. Perumusan Masalah

Permasalahan yang berkaitan dengan upaya pemberdayaan pendidikan
anak terlantar yang menjadi asuhannya adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah peranan Panti Asuhan Wira Adi Karya di Ungaran dalam
upaya pemberdayaan anak melalui pendidikan non formal.
2. Apakah faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi pengurus Panti
Asuhan Wira Adi Karya dalam dalam upaya pemberdayaan anak melalui
pendidikan non formal.
3. Bagaimakah persepsi masyarakat terhadap upaya pemberdayaan anak
melalui pendidikan non formal yang dilakukan Pegawai Panti Asuhan

D. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah untuk
mendapatkan informasi tentang :
1. Untuk mengetahui peranan Panti Asuhan Wira Adi Karya dalam upaya
pemberdayaan anak melalui pendidikan non formal.
2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat yang
dihadapi oleh pengurus Panti Asuhan Wira Adi Karya dalam upaya
pemberdayaan anak terlantar.
3. Untuk mengetahui respon masyarakat terhadap upaya pemberdayaan
pendidikan non formal bagi anak-anak terlantar yang dilakukan oleh para
pegawai Panti Asuhan Wira Adi Karya.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara
akademis maupun secara praktis.
1. Manfaat Teoritis
Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi keilmuan pada civitas akademika Universitas Negeri Semarang
tentang peranan Panti Asuhan dalam upaya pemberdayaan anak terlantar
melalui pendidikan non formal.

2. Manfaat Praktis
a. Dapat memberikan masukan kepada pihak panti asuhan untuk
membuat kebijakan dalam rangka memaksimalkan peranan Panti
Asuhan dalam upaya pemberdayaan terhadap anak-anak terlantar
melalui pendidikan non formal.
b. Dapat memberikan masukan kepada pemerintah untuk membuat
kebijakan yang berkaitan dengan adanya perlindungan terhadap anak-
anak terlantar.

F. Penegasan Istilah

Peranan menunjukkan keterlibatan diri atau keikutsertaan individu,
kelompok yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu atas
suatu tugas atau bukti yang sudah merupakan kewajiban dan harus dilakukan
sesuai dengan kedudukannya. Panti Asuhan adalah lembaga pelayanan
kesejahteraan sosial bagi anak-anak terlantar. Jadi, Peranan Panti Asuhan
berarti menunjukkan pada keterlibatan para pegawai Panti Asuhan untuk
melakukan pemberdayaan anak terlantar melalui pendidikan non formal.
Pemberdayaan yang dimaksud disini adalah upaya membangun
kemampuan anak terlantar supaya mereka dapat mandiri dan dapat
menampilkan sikap dan perilaku yang baik sehingga bisa membawa diri di
manapun mereka berada. Pemberdayaan ini diarahkan pada tercapainya

kesejahteraan anak terlantar melalui pelayanan sosial seperti pelatihan
ketrampilan, modal untuk kegiatan ekonomi, pendidikan non formal dan lain-
lain.
Pendidikan non formal adalah “ pendidikan yang teratur dengan sadar
dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan
ketat” ( Joesoef, 1999 : 79 ). Pendidikan non formal ini merupakan pendidikan
yang diberikan kepada setiap orang yang membutuhkan misalnya bagi anak-
anak yang terlantar atau anak-anak kurang mampu. Pada dasarnya pendidikan
non formal ini sama hal nya dengan pendidikan luar sekolah yang di
lembagakan. Pendidikan luar sekolah yang dilembagakan adalah semua
bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib terarah dan
berencana di luar kegiatan persekolahan

G. Sistematika Penulisan

Agar terdapat kejelasan secara garis besar maka dalam
pembahasannya secara berurutan penulis membagi dalam tiga bagian ,yaitu
bagian awal, bagian isi dan bagian akhir. Berikut penjelasan mengenai bagian
dalam skripsi tersebut.
1. Bagian awal berisi tentang halaman judul, persersetujuan pembimbing,
pengesahan kelulusan, pernyataan, motto dan persembahan, prakata, sari,
daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran.

2. Bagian isi terdiri dari :
BAB I : Pendahuluan
Berisi tentang Latar belakang, indentifikasi dan pembatasan
masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, penegasan istilah, sitematikan penelitian skripsi.
BAB II : Landasan Teori dan Kerangka Berfikir
Berisi Tinjauan tentang Peranan Panti asuhan, Tinjauan tentang
Pemberdayaan Anak Terlantar dan Tinjauan tenang Pendidikan
Non Formal
BAB III :Metode Penelitian.
Berisi dasar penelitian, lokasi penelitian ,fokus penelitian ,sumber
data penelitian, metode pengumpulan data, keabsahan data,
analisa data dan prosedur penelitian.
BAB IV :Hasil dan Pembahasan
Berisi tentang uraian hasil yang diperoleh dari penelitian yang
dilanjutkan dengan pembahasannya.
BAB V : Simpulan dan Saran
Berisi tentang simpulan dan saran.
3. Bagian akhir skripsi
Bagian akhir skripsi ini berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran.


======================= DOWNLOAD BAB1-5 =======================

doc (422)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s