BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan terutama di bidang kesehatan secara tidak
langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk serta
meningkatkan usia harapan hidup Indonesia di tahun 2000 yaitu sekitar 64,5
tahun. menurut UU no. 13 tahun 1998 meskipun tidak sekaligus hal ini berarti
peningkatan mutu kehidupan akan menimbulkan perubahan struktur penduduk
dan sekaligus menambah jumlah penduduk berusia lanjut (Arisman, 2004: 76).
Kesehatan dan gizi merupakan hak asasi manusia dan merupakan faktor
yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Dengan pesatnya
perkembangan IPTEK yang meliputi berbagai bidang termasuk kesehatan telah
dirumuskan paradigma sehat di mana perencanaan dan pelaksanaannya
pembangunan di semua sektor agar mempertimbangkan dampak positif dan
dampak negatif pada status kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Untuk
mewujudkan paradigma sehat tersebut telah ditetapkan Visi dan Misi Indonesia
sehat 2010. Seiring kemajuan tingkat perawatan kesehatan dan penurunan jumlah
kelahiran, jumlah penduduk usia lanjut juga semakin meningkat. Berdasarkan dari
data Badan Pusat Statistik jumlah populasi usia lanjut di Indonesia yaitu
sejumlah 14.439.967 orang atau 7,18 % . Bahwa jumlah usia lanjut di Indonesia
semakin bertambah akan membawa pengaruh besar di dalam pengelolaan
masalah kesehatannya dan kesejahteraannya.(Republika,2005)
Saat ini angka kesakitan akibat penyakit degeneratif meningkat jumlahnya di
samping masih ada kasus penyakit infeksi dan kekurangan gizi lebih kurang dari 2
74% usia lanjut menderita penyakit kronis. Adapun lima utama penyakit yang
banyak diderita adalah anemia (50%), ISPA (12,2%), kanker (12,2%), tbc (11,5%)
dan penyakit jantung pembuluh darah (29%). Masalah gizi yang sering diderita di
usia lanjut adalah kurang gizi, kondisi kurang gizi tanpa disadari karena gejala
yang muncul hampir tak terlihat sampai usia lanjut tersebut telah jatuh dalam
kondisi gizi buruk (Depkes,2003). Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suatu hal yang paling menakutkan bagi seseorang saat didiagnosa dokter terkena diabetes mellitus (DM) atau kencing manis. Banyak penderita diabetes yang putus asa karena penyakitnya (Puspo, 2007). Seseorang yang kehilangan sebagian anggota tubuh maka akan mengalami trauma karena merasa dirinya tidak sempurna. Khususnya bagi pria yang masih berusia produktif, ia akan kehilangan jati dirinya sebagai seorang pria. Sekitar 14 tahun lalu Chaims terpaksa kehilangan pekerjaannya sebagai instruktur pilot jet latih tempur di Royal Air Force inggris. Penyebabnya karena ia diketahui menderita DM tipe 1 (Chaims, 2007).
Akhir-akhir ini DM banyak menarik perhatian karena prevalensinya yang semakin meningkat. Terdapat 110,4 juta penderita DM di dunia pada tahun 1994. Diperkirakan jumlah penderita DM di dunia akan mencapai 239,3 juta jiwa pada tahun 2010. Di Indonesia akan mencapai 5 juta jiwa pada tahun 2010 (Tjokroprawiro, 1996). Diperkirakan Prevalesi penyakit DM di Indonesia menurut penelitian berkisar 1,5 – 2,3 % dari penduduk diatas usia 15 tahun (PERKENI, 1993).
Berdasarkan data dari Puskesmas Gubug pada tahun 2005 jumlah penderita DM sebanyak 216 orang dan pada tahun 2006 penderita DM sebanyak 248 orang. Jumlah itu merupakan gabungan dari rawat inap dan rawat jalan sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan penderita DM. Rata-rata penderita DM tersebut adalah usia 45-54 tahun. Puskesmas Gubug merupakan Puskesmas rujukan dari Puskesmas di daerah sekitar, dengan pelayanan yang bersifat komprehensif baik rawat jalan maupun rawat inap bagi semua jenis penyakit yang ada di Puskesmas tersebut. DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan sehingga dapat menimbulkan masalah.
Penyakit DM dapat menimbulkan dampak masalah yang sangat kompleks dan luas. Masalah yang ditimbulkan bukan hanya dilihat dari segi medis saja, tetapi bisa meluas sampai kepada masalah ekonomi, sosial budaya, keamanan, dan ketahanan sosial (DEPKES RI 1990). Dampak terhadap psikologi dapat berupa marah, cemas, depresi, ketakutan, rasa bersalah atau rasa malu. Selain itu juga berdampak bagi tubuh yang berupa metabolik kontrol yang jelek ( Tjrokroprawiro, 1994). Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit kencing manis merupakan sejenis penyakit yang dapat dicirikan dengan keadaan hyperglikemia (ketinggian kandungan glukosa dalam darah), terutamanya selepas pengambilan makanan, pada pengidapnya hiperglikemia dapat mempengaruhi hampir semua organ dan sistem tubuh. Dan jika tidak segera ditangani atau tidak mendapat perawatan secara khusus dapat menyebabkan komplikasi darah kecil (mikrovaskuler) seperti pada mata (retinopati diabetik), ginjal (nefropati ; diabetik) juga pada saraf-saraf perifer (neuropati diabetik) dan dapat mengenai pembuluh darah besar (makrovaskuler) seperti pada jantung (http:/www.goolec.om/kencingmanis/index.html).
Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang menyerang kurang lebih 12 juta orang. Tujuh juta dari 12 juta penderita diabetes tersebut sudah terdiagnosis, sisanya tidak terdiagnosis. Di Amerika Serikat, kurang lebih 650.000 kasus diabetes baru didiagnosis setiap tahunnya (Helathy People, 1990).
Diabetes Mellitus terutama preavalen diantara kaum lanjut usia. Diantara individu berusaia lebih dari 65 tahun 8,6% menderita diabetes tipe II. Angka ini mencakup 15%, populasi pada panti lansia. Di Amerika Serikat, diabetes merupakan penyebab utama kebutaan yang baru diantara penduduk berusia 74 tahun dan juga menjadi penyebab utama amputasi di luar trauma kecelakaan. Akibat penyakit dan hal ini sebagian besar disebabkan oleh angka penyakit arteri koroner yang tinggi pada para penderita diabetes (Brunner dan Suddart).
Angka rawat inap bagi penderita diabetes adalah 2,4 kali lebih besar pada orang dewasa dan 5,3 kali lebih besar pada anak-anak bila dibandingkan dengan populasi umum. Separuh dari keseluruhan (http:/www.goolec.om/kencingmanis/ index.html). Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal merupakan salah satu unsur penentu status kesehatan (Siswono, 2003). Dengan meningkatkan pelayanan keperawatan pada ibu post partum, serta intervensi yang tepat sesuai permasalahan yang dihadapi diharapkan angka kematian ibu waktu nifas menurun.
Kematian maternal pada saat ini masih merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sangat penting. Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk tertinggi di kawasan ASEAN, yakni 307 per 100.000 kelahiran. Negara anggota ASEAN lainnya, Malaysia tercatat 30 per 100.000 kelahiran dan Singapura 9 per 100.000 kelahiran hidup (Siswono, 2003).
Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002/2003 Angka Kematian Ibu (AKI) di Propinsi Jawa Tengah sebesar 121 per 100.000 kelahiran hidup. Di Propinsi Jawa Tengah kematian ibu terendah dicapai Kabupaten Klaten kasus 6 kematian dari 17.203 kelahiran hidup dan proporsi kematian ibu tertinggi diperoleh Kabupaten Batang dengan kasus 42 kematian dari 11.517 kelahiran hidup. Kejadian kematian ibu maternal paling banyak adalah waktu bersalin sebesar 49,5% kemudian waktu hamil sebesar 26% dan pada waktu nifas 24,5% (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2003).
Menjelang persalinan sebagian besar ibu merasa takut menghadapi persalinan apalagi bagi untuk yang pertama kali atau primipara (Manuaba, 1999). Proses persalinan adalah saat yang menegangkan dan mencemaskan bagi perempuan dan keluarganya (Bobak, 2004). Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan/ dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 1998). Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Usaha Perbaikan Gizi Keluarga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat, yang sebagian kegiatannya dilaksanakan di posyandu. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga ini dititikberatkan pada kegiatan penyuluhan gizi dengan menggunakan pesan – pesan gizi sederhana, pelayanan gizi, pemanfaatan lahan pekarangan, yang secara keseluruhan kegiatan tersebut dapat dilaksanakan oleh masyarakat sendiri ( Depkes RI, 1992 ).
Kegiatan yang dilakukan untuk menanggulangi masalah gizi antara lain dengan penimbangan secara berkala anak-anak dibawah lima tahun (Balita ) yang pada hakekatnya merupakan perpaduan dari kegiatan pendidikan gizi, monitoring gizi, dan intervensi gizi melalui usaha – usaha Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu). Kegiatan ini bertolak dari usaha swadaya masyarakat dan sepenuhnya dilakukan oleh tenaga sukarela desa yang telah mendapat latihan dibawah pengawasan dari Puskesmas.
Usaha – usaha tersebut tidak akan berdaya guna dan berhasil guna tanpa didukung oleh usaha – usaha lain secara terpadu. Oleh karena itu usaha penanggulangan masalah gizi memerlukan kerjasama dan koordinasi yang mantap antara berbagai sektor pembangunan. Lebih dari itu, keberhasilan
penanggulangan gizi sangat tergantung dari partisipasi aktif masyarakat yang ditandai oleh tingkat kehadiran ibu – ibu balita di posyandu. Salah satu indikator keberhasilan posyandu dalam usaha perbaikan gizi adalah angka pencapaian program (N/S) yang tinggi. Pencapaian angka N/S ini perlu didukung oleh pencapaian angka partisipasi masyarakat (D/S ) yang tinggi pula. D/S menunjukkan perbandingan jumlah anak balita yang hadir dan ditimbang di posyandu dengan jumlah semua anak balita yang ada di suatu wilayah posyandu. D/S juga merupakan suatu rasio tingkat kehadiran anak balita di posyandu. ( Depkes RI, 2001 )

Pendidikan dan pengetahuan merupakan hal yang penting bagi manusia, yang dapat mengubah persepsi mengenai suatu hal. Pengetahuan, diartikan sebagai pengalaman yang kita alami. Pengalaman – pengalaman itu harus disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga menjadi suatu keseluruhan yang berkaitan satu sama lain sebagai suatu gejala yang dapat diterangkan. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya diharapkan seorang ibu akan dapat meningkatkan dan berperan aktif dalam kegiatan posyandu dan akan selalu berperilaku, bertindak dan bersikap untuk mendorong perilaku kesehatan ( Notoatmodjo, 1993 ) Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah gizi di Indonesia saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Semenjak Krisis Moneter (Krismon) melanda Indonesia pada tahun 1997, berakibat pada ketidakstabilan harga bahan pangan, kemungkinan membuat konsumsi makan masyarakat ekonomi rendah bergeser yang biasanya 3 x sehari menjadi 2 x sehari, bahkan ada yang tidak makan makanan yang memenuhi syarat gizi (Soekirman, 2000).
Kurang Energi Kronis (KEK) merupakan salah satu masalah gizi akibat konsumsi makan yang tidak cukup mengandung energi protein, atau adanya gangguan kesehatan (Soekirman, 2000). Sebab lain dari terjadinya masalah tersebut adalah rendahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan tentang gizi, atau kemampuan untuk menerapkan informasi gizi dalam kehidupan sehari-hari (Berg, 1985). Tinggi rendahnya pendidikan dan pengetahuan tentang gizi erat kaitannya dengan keadaan gizi masyarakat, termasuk gizi ibu hamil (Depkes, 2000).
Kehamilan adalah adanya perubahan fisik dari ibu akibat perubahan keadaan hormon yang disertai gejala-gejala seperti mual, muntah, dan lain-lain. Selama hamil, terjadi peningkatan daya metabolisme energi. Sebagian ibu hamil mengalami penyesuaian fisiologik dan metabolik selama mengandung yang sesuai dengan proses-proses anabolik yang terjadi dalam janin dan plasenta. Sebagai akibat dari proses anabolisme tersebut, kebutuhan zat gizi umumnya meningkat selama kehamilan. Karena itu, penting sekali bagi ibu hamil mengkonsumsi makanan yang cukup, khususnya energi dan protein (Sarwono Prawiroharjo, 1997).
Peluang untuk melahirkan bayi sehat dan selamat dimungkinkan bila kondisi kesehatan ibu baik. Namun kenyataannya, masih banyak ibu hamil yang menderita gizi kurang, utamanya KEK. Penderita KEK mempunyai resiko melahirkan bayi berat badan rendah (BBLR) dan kematian ibu bersalin karena pendarahan (Depkes, 1995). Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Suatu perusahaan yang didirikan mempunyai beberapa tujuan,
tujuan yang dimaksud adalah mencari laba, berkembang, memberi lapangan
kerja, memenuhi kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa. Tujuan
perusahaan dapat dicapai apabila manajemen mampu mengelola,
menggerakkan dan menggunakan sumber daya manusia yang dimilikinya
secara efektif dan efisien.
Perusahaan adalah organisasi yang merupakan kumpulan orang-
orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Peranan manusia dalam organisasi sebagai pegawai atau karyawan
memegang peranan yang menentukan, karena hidup matinya organisasi
semata-mata tergantung pada manusia. Karyawan merupakan faktor penting
dalam setiap organisasi baik dalam pemerintah maupun swasta. Karyawan
merupakan factor penentu dalam pencapaian tujuan perusahaan ataupun
instansi secara efektif dan efisien, karyawan yang menjadi penggerak dan
penentu jalannya organisasi.
Untuk mencapai produktivitas kerja karyawan yang tinggi bukan
hal yang mudah utuk dilaksanakan. Faktor yang sangat penting untuk
mencapai produktivitas kerja yang tinggi adalah pelaksanaan disiplin kerja
dari para karyawan, karena hal tersebut merupakan salah satu faktor penentu
bagi keberhasilan dan kemajuan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua
peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku ( Hasibuan,
2002: 193 ).
Disiplin kerja disini adalah mengenai disiplin waktu kerja, dan
disiplin dalam menaati peraturan yang telah ditetapkan dalam perusahaan.
Dengan adanya kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan aturan-aturan
perusahaan yang diwujudkan dalam disiplin kerja yang tinggi, maka suatu
produktivitas kerja juga akan tercapai. Read the rest of this entry »