ABSTRAK

PARAMITA RACHMA.  Kebiasaan Minum, Kebutuhan Cairan dan
Kecenderungan Dehidrasi Siswi Sekolah Dasar. (Dibimbing oleh Dr. Ir. Dodik
Briawan, MCN).

Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui  intake dan kebutuhan
cairan serta kecenderungan dehidrasi siswi sekolah  dasar. Adapun tujuan
khususnya antara lain : (1) Mengetahui kebiasaan minum siswi sekolah dasar,
(2)  Mengetahui  intake  cairan siswi sekolah dasar, (3) Mengetahui kebutuhan
cairan siswi sekolah dasar, (4) Mengetahui kecenderungan dehidrasi siswi
sekolah dasar, (5) Menganalisis hubungan persentase tingkat konsumsi cairan
dengan kecenderungan dehidrasi siswi sekolah dasar, (6) Menganalisis
hubungan  intake energi dengan persentase tingkat konsumsi cairan siswi
sekolah dasar.
Penelitian dilaksanakan menggunakan desain  cross sectional study.
Lokasi penelitian di Sekolah Dasar Polisi 4 Bogor. Penentuan lokasi penelitian
dilakukan secara purposive dengan pertimbangan sekolah memiliki jumlah siswi
yang banyak, lokasi sekolah yang strategis, berada di tengah kota serta mudah
dijangkaku oleh peneliti. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei-Juni 2009.
Contoh penelitian ini adalah siswi kelas 4 dan 5 SD Polisi 4 Bogor  yang memiliki
kriteria sehat (tidak sedang menderita penyakit diare, ginjal, demam (flu), demam
berdarah serta radang tenggorokan). Populasi contoh berjumlah 193 siswi.
Jumlah minimal contoh yang diambil dihitung menggunakan formula estimasi of
mean  (Lemeshow et al. 1997).
Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan  data sekunder.
Data primer meliputi data karakteristik contoh (umur, BB, TB dan jumlah uang
saku untu pengeluaran pangan). Data karakteristik sosial ekonomi keluarga
contoh meliputi besar keluarga, pekerjaan ayah dan  pendidikan ayah. Data
sekunder meliputi pendidikan ayah dan pekerjaan ayah diperoleh dari database
yang terdapat di sekolah.
Data kebiasaan minum contoh diperoleh dari FFQ  (Food Frequency
Questionaire). Kebiasaan minum di sekolah diperoleh melalui wawancara
langsung dengan contoh. Data  intake cairan merupakan total  intake cairan dari
makanan dan minuman. Kecenderungan dehidrasi dilihat dari tanda-tanda
dehidrasi antara lain haus, lelah, kulit kering, mulut dan tenggorokan kering
(Asian Food Information Centre 2000).  Kebutuhan cairan contoh dihitung
dengan rumus Grant & DeHoog (1999) yang diacu dalam Mahan K. & Escott-
Stump (2004) serta berdasarkan rekomendasi dari  The National Research
Council (NRC) diacu dalam Sawka M et al. (2005). Hubungan antara  persentase
tingkat konsumsi cairan dengan kecenderungan dehidrasi dianalisis
menggunakan Uji Chi Square, hubungan antara intake energi dengan persentase
tingkat konsumsi cairan dianalisis menggunakan Uji Korelasi Pearson.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap kebiasaan minum contoh
sehari-hari, diketahui sebesar 52,3% contoh memiliki kebiasaan minum air  putih
5-6 kali per hari. Sebesar 64,0% contoh memiliki kebiasaan minum susu non
kemasan setiap hari. Sebesar 62,8% contoh minum susu kemasan  1-3 kali per
minggu. Sebesar 53,5% contoh minum teh non kemasan  dan 55,8% contoh
minum teh kemasan sebanyak 1-3 kali per minggu.
Pada saat di sekolah, sebesar 36,0% contoh menyukai minum teh
kemasan. Lebih dari setengah (52,3% contoh) memperoleh informasi tentang
minuman kesukaan dari iklan di televisi. Sebesar 37,2% contoh minum minuman

kesukaan karena alasan rasanya yang enak. Sebesar 55,8% contoh memiliki
minuman larangan dan 44,2% contoh sisanya tidak memiliki minuman larangan.
Sebesar 37,5% contoh memiliki minuman larangan berupa es. Sebesar 55,4%
contoh minum sebanyak 3-4 kali saat berada di sekolah. Sebagian besar contoh
(76,7% contoh) memperoleh minuman dari kantin dan pedagang kaki lima yang
terdapat di sekitar lokasi sekolah. Sebesar 47,7% contoh minum air pada saat
haus. Sebesar 70,9% contoh minum setelah melakukan aktivitas olahraga.
Intake cairan berasal dari makanan dan minuman. Rata-rata intake cairan
dari makanan dan minuman sebesar 2024,4 ± 287,4 ml/hari.  Rata-rata  intake
cairan dari makanan adalah 426,6 ± 126 ml/hari. Rata-rata  intake cairan dari
minuman  adalah 1597,8 ± 243 ml/hari.
Intake cairan dari makanan yang terbesar berasal dari kelompok pangan
makanan pokok, sayur dan buah serta lauk hewani.  Intake cairan dari makanan
pokok sebesar 218 ± 48 ml/hari, sayur dan buah sebesar 111,6 ± 94 ml/hari serta
lauk nabati sebesar 76,7 ± 42 ml/hari.
Intake cairan dari minuman yang paling besar berasal dari air putih, susu
dan teh.  Intake cairan dari air putih sebesar 1128,8 ± 203 ml/hari.  Intake cairan
dari susu sebesar 251,9 ml/hari dan intake cairan dari teh sebesar 113,0 ± 169,5
ml/hari.
Rata-rata kebutuhan cairan contoh (umur 10-12 tahun) berdasarkan
Grant & DeHoog (1999) yang diacu dalam Mahan K. & Escott-Stump (2004)
adalah 1789,7 ± 158,1 ml. Rata-rata tingkat konsumsi cairannya adalah 113,8 ±
17,6%. Rata-rata kebutuhan cairan contoh (umur 10-12 tahun) berdasarkan The
National Research Council  (NRC) diacu dalam Sawka M  et al. (2005) adalah
1516,7 ± 125,3 ml. Rata-rata tingkat konsumsi cairannya adalah 132,8 ± 20,6%.
Berdasarkan tanda-tanda dehidrasi, sebesar 62,8% contoh mengalami
dehidrasi ringan dan 37,2% contoh tidak mengalami dehidrasi. Hasil Uji  Chi
square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara
persentase tingkat konsumsi cairan dengan kecenderungan dehidrasi. Hasil
analisis bivariat dengan Uji Korelasi  Pearson menunjukkan terdapat hubungan
yang signifikan antara  intake energi dengan persentase tingkat konsumsi cairan
berdasarkan Grant & DeHoog (1999) yang diacu dalam  Mahan K. & Escott-
Stump (2004) (r=0,302 ; p<0,01). Hasil analisis bivariat dengan Uji Korelasi
Pearson menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara  intake  energi
dengan persentase tingkat konsumsi cairan berdasarkan The National Research
Council  (NRC) diacu dalam Sawka M  et al. (2005) (r=0,322 ; p<0,01). Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi  intake energi maka persentase tingkat
konsumsi cairan juga akan semakin besar.
selangkapnya klik disini

oleh:PARAMITA RACHMA.

SURAT DARI TUKANG NGEBLOG

Posted: June 22, 2012 in Uncategorized

Mohon maaf sebelumnya kalau tidak bisa menanggapi komment atau permintaan dari agan-agan,,,dikarenakan daku lagi sibuk,,,sibuk cari sesuap nasi dan susu buat anak-anak,,,,,,hehehe,,,,jadi blog ini agak terbengkelai,,,,,sebenarnya masih banyak data-data skripsi untuk dijadikan referensi (bukan untuk di “plagiat lo”,,hehehe),,,,,,,,,so,,,,kalau comment atau permintaan belum bisa dibalesi jangan marah ya,,,hehehehe,,,,trima kasih,,,,

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia merupakan hospes dari nematoda usus yang siklus hidupnya melalui tanah. Spesies nematoda usus disebut “Soil transmitted helminths” sedang yang terpenting bagi manusia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, Strongyloides stercolaris.1)
Di negara yang beriklim tropis infeksi cacing nematoda usus, diantaranya infeksi yang disebabkan cacing Soil Transmitted Helminths cacing ini tumbuh dan berkembangbiak. Sehingga derajat infeksi dapat mencapai 100 % dari jumlah penduduk. 2) Akibat dari infeksi cacing Soil Transmitted Helminths (STH) adalah gangguan pencernakan dan absorbsi makan, cacing ini ditemukan diusus halus. Keluhan yang lazim ditemukan pada penderita STH adalah nafsu makan menurun, gatal-gatal, lemah letih lesu karena kurang darah. 3) Read the rest of this entry »

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit sebagai unit usaha seperti semua perusahaan (enterprises) hanya berkembang dengan cepat jika menciptakan kepuasan dan kesetiaan pasien pada biaya yang terjangkau (affordable) (Soejadi, 1996).
Kepuasan pasien akan tercapai apabila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien dan keluarganya, ada perhatian terhadap keluhan, kondisi lingkungan fisik serta tanggap kepada kebutuhan pasien (Kotler, 2007).
Tirah baring atau imobilisasi dapat dialami oleh pasien dengan penurunan tingkat kesadaran atau kelumpuhan total atau sebagian dan pada kasus-kasus tertentu sebagai akibat tindakan pengobatan/ keperawatan (Priharjo, 1999).
Praktek sehari-hari di rumah sakit ada fenomena yang menarik untuk dipelajari dari pandangan perawat dan pasien, dimana ada kecenderungan perawat untuk meninggalkan suatu tindakan mandiri keperawatan. Ada sebagian perawat yang berpandangan bahwa seorang perawat dikatakan profesional bila ia mampu melakukan tindakan yang kadang berada di luar area kemandirian perawat itu sendiri. Sebagai bentuk tindakan mandiri, perawat melaksanakan kebersihan perorangan pada pasien seringkali dianggap bukan pekerjaan perawat, sehingga banyak perawat yang enggan bahkan terkesan malu untuk melaksanakanya. Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan kesehatan masyarakat merupakan suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat (Effendy, 1998). Tujuan dari perawatan kesehatan masyarakat adalah memperoleh derajat kesehatan yang optimal bagi setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Perawatan kesehatan tersebut lebih menekankan kepada upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan terhadap berbagai gangguan kesehatan dan keperawatan, dengan tidak melupakan upaya pengobatan dan perawatan serta pemulihan bagi yang sedang menderita penyakit maupun dalam kondisi pemulihan terhadap penyakit.
Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan, misal ibu hamil, ibu setelah melahirkan, ibu menyusui, ibu nifas, bayi, balita dan usia lanjut. Pada periode antenatal, ibu hamil harus dipersiapkan baik secara fisik maupun psikologis untuk merawat bayinya. Perawatan antenatal yang baik yaitu dengan memberikan perhatian yang khusus pada persiapan payudara serta putting susu dalam mengantisipasi permasalahan pemberian ASI pada bayi. Terdapat kesulitan psikologi maupun kesulitan fisik yang mencegah ibu menyusukan bayinya. Terdapat kesulitan psikologis maupun kesulitan fisik yang mencegah ibu menyusukan bayinya. Menurut Soetjiningsih (1997) bahwa persiapan psikologis ibu untuk menyusui pada saat kehamilan sangat berarti, karena keputusan atau sikap ibu yang positif harus sudah ada pada saat kehamilan atau bahkan jauh sebelumnya. Sikap ibu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain adat atau kebiasaan atau kepercayaan menyusui di daerah masing-masing, pengalaman menyusui sebelumnya, pengetahuan tentang manfaat ASI, kehamilan diinginkan atau tidak. Dukungan dari perawat atau petugas kesehatan, teman atau kerabat dekat sangat dibutuhkan terutama pada ibu yang baru pertama kali hamil. Cara terbaik dalam mempersiapkan pemberian ASI adalah keadaan kejiwaan ibu yang sedapat mungkin tenang dan tidak menghadapi banyak masalah. Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pegawai suatu instansi pada dasarnya merupakan satu-satunya sumber
utama organisasi yang tidak dapat digantikan oleh sumber daya lainnya, sebab
bagaimanapun baiknya suatu organisasi, lengkapnya fasilitas serta sarana tidak
akan bermanfaat tanpa adanya pegawai yang mengatur, menggunakan dan
memeliharanya. Keberhasilan instansi dalam mencapai tujuan merupakan salah
satu cerminan dari organisasi yang efektif. Pegawai negeri sebagai aparatur
pemerintah dan sebagai abdi masyarakat diharapkan selalu siap menjalankan
tugas dengan baik dan siap melayani masyarakat dengan baik pula.
Seorang pegawai negeri dituntut untuk selalu bekerja dengan semangat
yang tinggi sehingga dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tidak
terkesan lamban, malas dan ogah-ogahan. Semangat kerja bagi pegawai negeri
diperlukan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Pegawai negeri di samping memiliki semangat kerja yang tinggi dituntut
pula untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kualitas
pelayanan adalah salah satu variabel yang cukup penting dalam pelaksanaan tugas
kemasyarakatan atau tugas pelayanan umum. Agar pegawai dapat memberikan
pelayanan yang baik kepada masyarakat, maka pegawai harus memiliki semangat kerja yang tinggi. Berkaitan dengan semangat kerja ini, Alex Nitisemito (1991 : Read the rest of this entry »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan Bangsa Indonesia adalah mewujudkan suatu
masyarakat adil dan makmur yang merata secara materiil maupun spiritual.
Disebutkan pula bahwa hakekat Pembanguan adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
Tujuan dan hakikat tersebut akan tercapai bila didukung partisipasi
masyarakat dalam prosesnya, termasuk pembangunan bidang kesejahteraan
anak UU No. 6 Tahun 1974 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan
sosial menyebutkan usaha kesejahteraan sosial dilakukan bersama-sama oleh
Pemerintah dan masyarakat.
Krisis moneter yang berkepanjangan di Negara kita telah banyak
menyebabkan orang tua dan keluarga mengalami keterpurukan ekonomi
akibat pemutusan hubungan kerja atau kehilangan pekerjaan, menurunnya
daya beli serta harga bahan pokok yang melambung, sehingga keluarga tidak
mampu memenuhi hak dan kebutuhan anak. Akibat lebih jauh yaitu
banyaknya anak yang terpaksa harus meninggalkan orang tua, rumah dan
sekolah guna mengais atau mencari nafkah dijalanan sehingga mereka
menjadi anak terlantar yang putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Dengan keadaan seperti ini maka anak-anak yang putus sekolah (Drop
Out) karena ketiadaan biaya maka mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi sehingga banyaknya pengangguran dan anak anak
terlantar di kota Semarang akan lebih meningkat bahkan mereka juga dapat
menjadi anak jalanan yang hidup di jalan tanpa pengasuhan dan pengawasan
dari orang tua nya sendiri. Bagi anak-anak yang seperti itu langkah baiknya
mereka tetap dalam suatu lembaga sosial, misalnya mereka berada dalam
Panti Asuhan atau pun Lembaga Sosial yang dapat menjamin dan membantu
mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Panti asuhan ini dapat
membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mengasuh,
mendidik, membimbing, mengarahkan, memberikan kasih sayang serta
memberikan ketrampilan-ketrampilan yang dapat menjadi bekal masa depan
anak-anak tersebut.
Negara, Pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua berkewajiban
dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (Pasal
20 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 ). Jadi dari sini
jelas yang harus mengusahakan perlindungan terhadap anak adalah setiap
anggota masyarakat sesuai dengan kemampuan masing-masing, dengan
berbagai macam usaha dalam situasai dan kondisi tertentu termasuk anak
terlantar. Anggota masyarakat, Bangsa dan lembaga-lembaga kemasyarakatan
lainnya seperti panti asuhan juga ikut serta bertanggung jawab terhadap
perlindungan anak yang terlantar. Read the rest of this entry »