ANALISIS EFISIENSI BIAYA PADA BANK UMUM SYARIAH DI NDONESIA MENGGUNAKAN X-EFISIENSI

Posted: March 13, 2011 in Manajemen

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Dewasa ini perbankan di Indonesia dihadapkan pada tingkat
persaingan yang semakin ketat, oleh karena itu lembaga perbankan perlu
meningkatkan kinerja untuk dapat bertahan dalam situasi krisis atau
memenangkan persaingan dalam era globalisasi. Pelaku bisnis harus selalu
siap menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dengan cepat. Selain itu
usaha perbankan juga dihadapkan pada berbagai macam risiko dalam
menjalankan operasinya. Menurut Siamat (1993) dalam Kuncoro (2002)
Risiko yang dihadapi bank antara lain sebagai berikut : (1) Risiko kredit,
merupakan risiko kegagalan atau ketidakmampuan nasabah mengembalikan
jumlah pinjaman yang telah diterima dari bank beserta bunganya sesuai
jangka waktu yang telah ditentukan; (2) Risiko investasi, berkaitan dengan
kemungkinan terjadinya kerugian akibat penurunan nilai pokok dari
portofolio surat-surat berharga. Penurunan nilai surat-surat berharga tersebut
bergerak berlawanan arah dengan tingkat bunga umum. Oleh karena itu
dalam situasi tingkat suku bunga yang berfluktuasi bank akan menghadapi
kemungkinan risiko perubahan harga pasar atas portofolio investasinya; (3)
Risiko operasional, merupakan ketidakpastian mengenai kegiatan usaha
bank. Risiko operasional kemungkinan berasal dari kerugian operasional
bila terjadi penurunan keuntungan yang dipengaruhi oleh struktur biaya
operasional bank, dan kemungkinan terjadinya kegagalan atas jasa-jasa dan
produk-produk yang ditawarkan; (4) Risiko penyelewengan, berkaitan
dengan kerugian yang dapat terjadi akibat hal-hal seperti ketidakjujuran,
penipuan, atau moral hazard dari pelaku bisnis perbankan baik pejabat,
karyawan, atau nasabah.
Untuk meminimalkan risiko-risiko tersebut maka perbankan perlu
bertindak rasional dalam arti lebih memperhatikan masalah efisiensi. Hal ini
sangat penting untuk dilakukan dengan beberapa alasan: Pertama, setiap
perusahaan perlu mengetahui struktur biaya opersional mereka agar dapat
menggali sumber daya yang ada secara lebih efektif dan efisien dalam
menjalankan peran sebagai lembaga intermediasi. Kedua, dunia perbankan
saat ini dihadapkan pada kompetisi yang bertambah ketat. Pengaruh era
globalisasi dan abad informasi berdampak pada meningkatnya semangat
deregulasi dan anti proteksi (Siswadi dan Arafat, 2004 : 164). Karena itu alat
analisis yang tepat penting untuk mengetahui struktur biaya operasional
bank guna menghadapi tantangan yang dihadapi.
Bank yang kegiatan usahanya tidak efisien akan mengakibatkan
ketidakmampuan bersaing dalam mengerahkan dana masyarakat maupun
dalam menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan
sebagai modal usaha. Dengan adanya efisiensi pada lembaga perbankan
terutama efisiensi biaya maka akan diperoleh tingkat keuntungan yang
optimal, penambahan jumlah dana yang disalurkan, biaya lebih kompetitif,
peningkatan pelayanan kepada nasabah, keamanan dan kesehatan perbankan
yang meningkat (Kuncoro dan Suhardjono, 2002). Efisiensi dalam dunia
perbankan merupakan salah satu cara ukuran untuk menilai kinerja bank.
Kinerja perbankan adalah hasil yang dicapai suatu bank dalam
mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan manajemen (Farid dan Siswanto, 1998). Salah
satu cara ukuran untuk menilai kinerja bank yaitu dengan efisiensi. Efisiensi
akan lebih jelas jika dikaitkan dengan konsep perbandingan output-input.
Output merupakan hasil atau keluaran suatu organisasi dan input merupakan
sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Efisiensi
adalah kemampuan menghasilkan output yang maksimal dengan input yang
ada.
Setiap organisasi mutlak perlu memegang prinsip efisiensi. Secara
sederhana prinsip efisiensi pada dasarnya berarti menghindari segala bentuk
pemborosan. Mengingat kenyataan bahwa kemampuan suatu organisasi
mengadakan dan memiliki sarana dan prasarana kerja yang juga disebut
sebagai sumber dana dan daya yang diperlukannya guna menjalankan roda
organisasi selalu terbatas, padahal tujuan yang ingin dicapai tidak terbatas,
maka tidak pernah ada pembenaran untuk membiarkan pemborosan terjadi.
Salah satu penyebab inefisiensi, antara lain diakibatkan oleh alokasi input
yang kurang sempurna pada kegiatan operaisonalisasi perbankan. Semakin
efisien suatu bank maka kinerjanya semakin baik, sebaliknya bank yang
mempunyai tingkat inefisiensi yang tinggi pada input dan outputnya,
kinerjanya semakin menurun.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa efisiensi dalam bank
sangat penting sebagai ukuran kinerja bank. Selama ini penelitian mengenai
efisiensi lebih banyak dikonsentrasikan pada lingkungan perbankan
konvensional dan tidak banyak penelitian mengenai tingkat efisiensi dari
bank Islam. Karena itulah penelitian ini lebih memfokuskan pada
pengukuran tingkat efisiensi bank Islam yaitu pengukuran tingkat efisiensi
pada Bank Umum Syariah di Indonesia.
Perbankan syariah muncul di Indonesia tahun 1992 yang merupakan
hal baru dalam kerangka mekanisme sistem perbankan pada umumnya.
Perbankan syariah lahir sebagai alternatif sistem perbankan guna memenuhi
harapan yang menginginkan sistem keuangan syariah, yaitu bank yang
menerapkan prinsip bagi hasil yang bebas dari riba (bunga). Karakteristik
inilah yang membedakan bank syariah dengan bank konvensional.
Perkembangan perbankan syariah saat ini dan ke depan diperkirakan akan
memiliki produk dan jasa perbankan yang semakin beragam dan kompleks,
sehingga risiko yang dihadapi juga meningkat. Sejak bank Islam beroperasi
di lingkungan yang sama dengan bank konvensional, mereka juga
mempunyai pesaing yang sama. Dengan penerapan efisiensi yang benar
akan sangat berharga dalam membantu manajemen bank Islam. Kondisi
inilah yang mendorong dilakukannya analisis efisiensi agar tercipta kinerja
yang sehat.
Penelitian ini didasarkan pada penelitian Amrizal Amir pada Bank
Islam Malaysia Berhad yang berjudul X-Efficiency of Bank Islam Malaysia
Berhad (BIMB) : A Preliminary Study. Dimana penelitian tingkat efisiensi
didasarkan pada pendekatan cost frontier untuk mengevaluasi kinerja bank
Islam. Satu variabel output (investasi) dan tiga variabel input (modal, tenaga
kerja dan deposito) digunakan dalam mengukur X-Efisiensi BIMB. Dalam
cost frontier suatu bank dikatakan efisien apabila memiliki angka mendekati
1 atau 100 persen sebaliknya jika mendekati 0 menunjukkan efisiensi bank
semakin rendah.
Dalam pengukuran efisiensi di Bank Umum Syariah di Indonesia
menggunakan X-Efisiensi membutuhkan suatu pendugaan fungsi biaya
sebagai frontier untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu bank. Sebelum
menentukan fungsi biaya yang digunakan, input dan output dari bank harus
ditentukan terlebih dahulu. Dalam penelitian ini penentuan input dan output
dari suatu bank menggunakan asset approach. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Radam (2002) menunjukkan bahwa variabel aset bank
merupakan faktor utama terjadinya inefisiensi, sehingga bank-bank perlu
merubah atau memperbaiki menajemen asetnya (Susilowati, 2002 : 99).
Dalam penelitian ini efisiensi akan diwakili oleh variabel input : tenaga kerja
dan modal, dan variabel output yaitu investasi.
Salah satu pengelolaan paling penting dalam dunia perbankan adalah
pengelolaan sumber daya manusianya (SDM). Hal ini disebabkan SDM
merupakan tulang punggung dalam menjalankan roda kegiatan operasional
suatu bank. Jadi bisa dikatakan tenaga kerja merupakan suatu asset
perusahaan.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan dibutuhkan efektivitas,
efisiensi, dan produktivitas serta kualitas yang tinggi, maka untuk itu
diperlukan manusia-manusia yang mampu melaksanakan tugas dan kegiatan
sebagaimana yang diinginkan perusahaan (Soehardjo, 1998:40). Secara
umum, tugas kekhalifahan manusia adalah tugas mewujudkan kemakmuran
dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan (Al-An’am : 56). Salah satu
esensi didirikannya bank syariah adalah memajukan kesejahteraan manusia
yang terletak pada jaminan atas keyakinan, masa depan dan harta milik.
Kesejahteraan disini tidak hanya ditujukan untuk kesejahteraan investor
semata tetapi juga tenaga kerja didalamnya.
Pertumbuhan industri bank syariah di Indonesia mengalami
pertumbuhan yang sangat cepat yaitu sejak dikeluarkannya UU No. 10 tahun
1998 tentang Perbankan, yang ditindak lanjuti dengan dikeluarkannya SK
Direksi Bank Indonesia NO. 32/34/KEP/DIR/ tanggal 12 Mei 1999 tentang
Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, peraturan ini dimaksudkan untuk
mendorong perluasan jaringan kantor. Berdasarkan statistik Perbankan
Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, jika pada tahun 2000
jumlah kantor operasional yang berupa Kantor Cabang, Kantor Cabang
Pembantu, dan Kantor Kas hanya 62 kantor, maka pada akhir Januari 2004
telah membengkak menjadi 443 Kantor. Perkembangan Perbankan Syariah
yang demikian cepatnya tentunya sangat membutuhkan sumber daya insani
yang memadai dan mempunyai kompetensi dalam bidang perbankan syariah
agar pengembangan tersebut dapat dilakukan secara efektif dan optimal.
Semakin besar suatu perusahaan maka akan semakin besar pula tenaga
kerja yang dibutuhkan. Biaya tenaga kerja mempunyai proporsi terbesar
dalam biaya, karena itu perusahaan harus meneliti dengan seksama agar
tidak terjadi ketidakefisienan dalam penggunaan tenaga kerja. Mengingat
faktor manusia itu mutlak harus ada dalam perusahaan, bahkan merupakan
faktor yang terpenting melebihi faktor-faktor lainnya, maka sudah
selayaknya kalau faktor ini mendapatkan perhatian yang lebih dalam
manajemennya, agar mereka melaksanakan tugas, wewenang, dan tanggung
jawabnya dengan baik sehingga dapat meningkatkan produktivitas,
efektivitas, efisiensi dan prestasinya.
Modal bank adalah aspek penting bagi suatu unit bisnis bank. Modal
merupakan bagian dari dana yang dapat digunakan bank dalam aktivitas
kesehariannya. Kebalikan dari sistem konvensional yang memberikan bunga
atas harta, Islam malah menjadikan capital sebagai objek zakat. Zakat
dikenakan terhadap berbagai macam modal yang telah terkumpul sebagai
suatu kelebihan pada akhir periode. Zakat perusahaan disamakan dengan
zakat perdagangan baik nishabnya maupun persentase zakatnya. Adapun
yang menjadi landasan wajib zakat pada perusahaan adalah nash-nash Al-
Quar’an yang bersifat umum seperti termaktub dalam QS. At Taubah : 103
dan QS. Al Baqoroh : 267 yang mewajibkan setiap harta dan hasil usaha
untuk dikeluarkan zakatnya.
Operasi perusahaan yang efisien akan mempengaruhi jumlah laba yang
dihasilkan dan berapa besarnya zakat yang akan ditunaikan. Efisiensi
perusahaan juga akan menunjukkan kinerja usaha perusahaan. Menurut
Triyuwono dalam Muhamad (2002 : 141) melalui zakat dapat diketahui
kinerja perusahaan yaitu semakin tinggi zakat yang dikeluarkan oleh
perusahaan berarti semakin besar laba yang didapat perusahaan.
Bank merupakan lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan
antara pihak-pihak yang memiliki dana (surplus unit) dengan pihak-pihak
yang memerlukan dana (defisit unit) serta berbagai lembaga yang
memperlancar lalu lintas pembayaran. Dari fungsi yang ada dapat dikatakan
bahwa dasar beroperasinya bank adalah kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan. Oleh karena itu untuk menjaga kepercayaan tersebut, manajemen
bank perlu meningkatkan kinerjanya untuk menjaga tingkat kesehatan bank
(Indira Januarti, 2002). Dengan kata lain fungsi intermediasi dari bank
penting untuk diteliti.
Pada tahun 2004 kinerja perbankan syariah akan tergantung pada
fungsi investasi yaitu pemberian pembiayaan kepada nasabah. Namun, harus
diakui bahwa bank-bank syariah, seperti halnya bank konvensional lainnya,
tidak mudah mencari nasabah yang potensial. Apalagi pasar yang dibidik
oleh bank syariah hampir sama dengan bank konvensional, terutama yang
bergerak di pasar ritel. Untuk itu, bank-bank syariah harus lebih
mempercepat distribusi kredit dengan kualitas yang baik. Hal ini mengingat
pembiayaan merupakan fungsi bank dalam menjalankan fungsi penggunaan
dana. Dalam kaitan dengan perbankan maka ini merupakan fungsi yang
terpenting. Dari pembiayaan yang dikeluarkan atau disalurkan bank
diharapkan dapat mendapatkan hasil. Tingkat penghasilan dari pembiayaan
(Yield On Financing) merupakan tingkat penghasilan tertinggi bagi bank
(Muhamad, 2000 : 238). Berapa output yang dihasilkan bisa dilihat dari
besarnya investasi (dalam hal ini pembiayaan) yang diberikan. Semakin
besar investasi maka akan semakin besar pula pendapatan (bagi hasil) yang
akan diperoleh (Muhamad, 2000 : 238). Karena pembiayaan merupakan
fungsi investasi terbesar maka bank syariah perlu berhati-hati dalam
penyaluran pembiayaan.
Suatu perusahaan menghasilkan output maksimum atas dasar
kombinasi sumber daya (input) yang digunakan. Karena itu pengalokasian
input yang benar sangat diperlukan untuk menghasilkan output yang
maksimum.
Beberapa penelitian terdahulu tentang pengukuran efisiensi dengan
pendekatan X-Efisiensi juga telah dilakukan diantaranya oleh Sathye (2000)
dalam Amrizal (2004), meneliti 29 bank di Australia, dan menyatakan
bahwa bank-bank di Australia di bawah level efisiensi. Sebelumnya
penelitian mengenai X-Efisiensi pada Bank Islam di pelopori oleh
Abd.Elrman Elzahi Saaid (2002) dalam Amrizal (2004), meneliti bank Islam
di Sudan dan menemukan bahwa X-Efisiensi di bank-bank Sudan kurang
dari 1 atau 100%, menunjukkan tidak optimal dalam penggunaan input.
Penelitian yang dilakukan Yudistira (2003) adalah untuk mengetahui
tingkat efisiensi pada bank Islam dengan melakukan analisis empirik
terhadap 18 bank berbeda yang tersebar di seluruh dunia. Penelitian ini 10
menggunakan tiga buah input yaitu biaya tenaga kerja, asset tetap, dan total
simpanan. Serta tiga buah output yaitu total kredit, pendapatan operasional
lain, dan asset likuid. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat inefisien
pada islam tergolong rendah yaitu sekitar 10 persen jika dibandingkan
dengan bank-bank konvensional. Pada tahun 1998 – 1999 kinerja bank islam
terkena imbas krisis global tetapi kemudian setelah masa sulit tersebut
kinerja bank islam berjalan sangat baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Hassan (2003) adalah untuk meneliti
efisiensi pada industri perbankan Islam di Pakistan, Iran, dan Sudan selama
tahun 1994 – 2001. Dua variabel output (total pinjaman, total pendapatan
asset) dan tiga variabel input (total deposito, tenaga kerja dan asset tetap)
digunakan untuk mengukur efisiensi Perbankan Islam di Pakistan, Iran dan
Sudan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa rata-rata indutri perbankan
Islam secara relatif kurang efisien dibandingkan bank konvensional.
Penelitian yang dilakukan Goldberg dan Hannan (1993) dalam
Johnson (2003) mengkaitkan efisiensi dengan performance. Mereka
memasukkan X-Efficiency, scale efficiency, konsentrasi bidang usaha dan
pangsa pasar, dan variable kontrol yaitu error prediction (kesalahan prediksi)
dihadapkan dengan serangkaian ukuran kinerja perbankan. X-efficiency
mencerminkan hubungan (rasio) antara output atau dana dicairkan dengan
biaya yang ditanggung bank atau biaya operasi. Sedangkan scale fficiency
dinyatakan dengan skala ekonomis yaitu seberapa besar dana yang
disalurkan dari total dana yang dimiliki.
Merujuk pada hasil penelitian yang telah ada mengenai pengukuran X-
Efisiensi menggunakan model cost frontier dengan berbagai variabel input
dan output yang berbeda, maka peneliti ingin meneliti kembali mengenai
pengukuran X-Efisiensi, khususnya pada bank Islam di Indonesia.
Penelitian ini berusaha untuk meneliti lebih lanjut permasalahan-
permasalahan yang dihadapi oleh dunia perbankan, khususnya permasalahan
kinerja pada Bank Umum Syariah di Indonesia, sekaligus sebagai alternatif
lain dalam pengukuran tingkat efisiensi yang telah ada. Melalui penelitian
ini diharapkan dapat diperoleh informasi yang dapat menjawab
permasalahan di atas dan dapat diperoleh gambaran bagaimana cara
pemecahan masalah tersebut di atas.

1.2 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik
permasalahan yang timbul sebagai berikut :
”Apakah perhitungan X-Efisiensi dengan model dasar cost frontier yang
digunakan cocok untuk diterapkan dalam perhitungan tingkat efisiensi biaya
pada Bank Umum Syariah di Indonesia”, di mana untuk mengetahui :
1. Sejauh mana tingkat efisiensi pada Bank Umum Syariah di Indonesia?
2. Adakah pengaruh antara harga tenaga kerja, harga modal, investasi serta
kombinasinya terhadap total biaya secara simultan pada Bank Umum
Syariah di Indonesia?
3. Adakah pengaruh antara harga tenaga kerja, harga modal, investasi serta
kombinasinya terhadap total biaya secara parsial pada Bank Umum
Syariah di Indonesia?

1.3 TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan dan kenyataan yang terjadi di atas, maka
tujuan dalam penelitian ini adalah :
”Untuk mengetahui apakah perhitungan X-Efisiensi dengan model dasar
cost frontier yang digunakan cocok untuk diterapkan dalam perhitungan
tingkat efisiensi biaya pada Bank Umum Syariah di Indonesia”, di mana :
1. Untuk menganalisis sejauh mana tingkat efisiensi pada Bank Umum
Syariah di Indonesia.
2. Untuk menganalisis besarnya pengaruh antara harga tenaga kerja,
harga modal, investasi serta kombinasinya terhadap total biaya secara
simultan pada Bank Umum Syariah di Indonesia.
3. Untuk menganalisis besarnya pengaruh antara harga tenaga kerja,
harga modal, investasi serta kombinasinya terhadap total biaya secara
parsial pada Bank Umum Syariah di Indonesia.

1.4 MANFAAT PENELITIAN
Dengan diadakannya penelitian ini penulis mempunyai harapan akan
diperolehnya manfaat sebagai berikut :
1 Dari segi akademik, penelitian ini diharapkan dapat menambah
khasanah Ilmu Pengetahuan di bidang ekonomi khususnya tentang
kinerja perbankan syariah dan dapat memberikan informasi bagi
kemungkinan adanya penelitian lebih lanjut.
4. Dari segi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai
bahan masukan kepada perbankan syariah untuk mengidentifikasi
penyebab-penyebab ketidakefisienan sehingga dapat dibuat kebijakan-
kebijakan yang mengarah pada langkah-langkah untuk mencegah
ketidakefisienan agar tercipta kinerja yang sehat.

1.5 SISTEMATIKA SKRIPSI
Gambaran singkat tentang isi keseluruhan skripsi yang akan peneliti
buat adalah sebagai berikut :
1. Bagian Awal Skripsi
Bagian ini berisi tentang sampul, lembar berlogo, halaman judul,
abstrak, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar
isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar grafik, dan daftar lampiran.
2. Bagian Isi Skripsi
BAB I : Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
skripsi.
BAB II : Landasan Teori
Menjelaskan tentang landasan teori yang dikemukakan
yaitu: pengertian bank, peran dan fungsi bank syariah,
efisiensi, kerangka berpikir, dan hipotesis.
BAB III : Metode Penelitian
Dalam metode penelitian, penulis akan menjelaskan
tentang obyek penelitian, variabel penelitian, metode
pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berisi hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.
BAB V : Penutup
Berisi kesimpulan mengenai hasil penelitian dan saran-
saran yang relevan.
3. Bagian Akhir skripsi
Bagian ini berisi daftar pustaka dan lampiran.

(download komplete : bab1-5)
doc (223)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s