KAJIAN FILOLOGIS DAN NILAI-NILAI ISLAM DALAM HIKAYAT RAJA RAHIB

Posted: March 15, 2011 in Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Di Indonesia, sastra berkembang dalam dua periode menurut waktu
berlangsungnya sastra tersebut, yaitu satra lama dan sastra modern. Untuk
menentukan batas antara sastra lama dan sastra modern, Djamaris dalam bukunya
Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik mengatakan:
Sastra Melayu klasik masa waktunya cukup lama, yaitu sejak orang
Melayu mengenal tulisan, khususnya tulisan Arab, yang biasa disebut
tulisan Arab Melayu, kira-kira abad ke-17, kemudian tulisan latin sampai
dengan masa mengenal mesin cetak yang digunakan untuk menerbitkan
karya sastra itu. Sastra modern dimulai pada zaman Balai Pustaka sekitar
tahun dua puluhan. Sebelum zaman Balai Pustaka itu, karya sastra yang
ditulis dalam bahasa Melayu disebut sastra Melayu klasik atau sastra
Indonesia lama (Djamaris, 1990: 11)
Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa batas antara sastra
lama dan sastra modern cukup lama, yakni dari abad ke-17 sampai tahun dua
puluhan (zaman Balai Pustaka). Orang mengenal sastra Melayu sejak mereka
belum mengenal tulisan, khususnya tulisan Arab Melayu (tulisan Jawi), tulisan
Latin sampai akhirnya mengenal mesin cetak.
Sastra Melayu klasik atau sastra Indonesia lama, yakni mencakup segala
karya sastra yang ditulis tangan pada kertas, lontar, dan kulit kayu yang
diperbanyak dengan cara menyalin. Karya tulis ini menyimpan berbagai ungkapan
pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa lampau.
Pengetahuan tentang kebudayaan bangsa pada masa lampau tersebut dapat
digali melalui peninggalan nenek moyang. Peninggalan nenek moyang beberapa
abad yang lampau ada bermacam-macam bentuk, yaitu dalam bentuk tulisan yang
antara lain terdapat pada batu (prasasti), candi-candi, wilayah peninggalan sebuah
kerajaan atau benda purbakala yang lain, dan naskah-naskah. Selain bentuk tulis
tersebut ada juga peninggalan yang berbentuk lisan.
Namun, pada hakikatnya tidak ada peninggalan suatu bangsa yang lebih
memadai untuk keperluan penelitian sejarah dan kebudayaan daripada kesaksian
tertulis, terutama bila merupakan kesaksian tangan pertama, yang disusun oleh
suatu bangsa dalam masa hidupnya. Tulisan-tulisan inilah yang disebut naskah.
Naskah lama adalah salah satu bentuk dokumen tertulis yang sangat penting dan
mutlak harus diteliti. Melalui naskah lama ini dapat diketahui secara lebih nyata
tentang bagaimana cara berpikir penyusunnya, di samping telaah fakta yang lebih
memuaskan, karena diceritakan oleh yang bersangkutan.
Naskah sebagai dokumen tertulis tidak terlepas dari kebudayaan suatu
bangsa. Hal ini berarti bahwa isi suatu naskah dapat meliputi semua aspek
kehidupan budaya suatu bangsa, dalam arti dapat mencakup bidang-bidang
filsafat, kehidupan agama, kepercayaan, dan lain-lain.
Naskah juga merupakan dokumen sejarah yang mengandung nilai-nilai
budaya masa lampau yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh
Nusantara. Naskah-naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia (PNRI) di Jakarta, dan di tempat-tempat penyimpanan naskah yang lain,
yakni di museum-museum, lembaga pemerintahan, istana-istana. Selain itu juga
masih banyak naskah yang disimpan oleh perorangan yang merupakan warisan
nenek moyangnya dan dijadikan sebagai koleksi pribadi.
Naskah-naskah Nusantara tersebar di 26 negara, antara lain; Malaysia,
Singapura, Brunei, Srilangka, Thailand, Mesir, Imggris, Jerman, Rusia, Austria,
Hongaria, Swedia, Afrika Selatan, Belanda, Spanyol, Italia, Perancis, Amerika,
dan Belgia. Khusus naskah Melayu diperkirakan terdapat 5000 (lima ribu) buah
naskah, berdasarkan berbagai katalog naskah Melayu. Lebih seperempatnya
berada di Indonesia dan terbanyak terdapat di Jakarta (Lubis, 2001: 28)
Sebagian besar dari naskah-naskah tersebut masih banyak naskah yang
tidak tertangani dan termanfaatkan dengan baik, terlantar dan mengalami
kerusakan karena kurangnya pemeliharaan. Selain itu, juga masih banyak naskah
yang jarang diteliti karena adanya beberapa kendala, antara lain bahasa dan aksara
yang digunakan dalam naskah tersebut yang pada saat ini kurang begitu dikenal
dan dikuasai masyarakat misalnya, aksara Arab Melayu. Pada saat ini orang yang
bisa memahami aksara tersebut semakin sedikit. Hal ini disebabkan oleh tidak
diajarkannya aksara tersebut di sekolah-sekolah umum. Namun, bagaimanapun
sukarnya kendala dalam meneliti naskah lama, penelitian terhadapnya harus tetap
dilakukan.
Jika penelitian terhadap naskah lama tidak dilakukan, maka warisan nenek
moyang ini dikhawatirkan akan punah. Hal ini disebabkan mengingat banyaknya
naskah yang ditulis dengan menggunakan daun tal (lontar), kulit kayu, bambu,
dan kertas yang mudah lapuk dan hancur seiring pertambahan usia naskah.
Peninggalan naskah lama ini mengandung isi yang sangat kaya. Kekayaan
itu ditunjukkan oleh keanekaragaman aspek kehidupan yang dikemukakan,
misalnya masalah politik, sosial, ekonomi, agama, bahasa, sastra, maupun
kebudayaan. Oleh sebab itu, banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari
mempelajari naskah lama, antara lain dapat menggali sumber-sumber dari masa
lampau untuk menemukan kepribadian bangsa sendiri dalam arus perkembangan
masyarakat pada saat ini. Dengan demikian, naskah lama dapat menjadi jembatan
searah bagi pemikiran masa lampau dengan pemikiran masa kini.
Salah satu usaha untuk menyelamatkan sekaligus memanfaatkan naskah-
naskah tersebut adalah dengan mengadakan penelitian. Penelitian terhadap
naskah-naskah tersebut membutuhkan perhatian dan keahlian yang khusus. Ilmu
khusus yang dapat menelaah naskah tersebut adalah ilmu filologi.
Filologi dapat diartikan sebagai cinta kata yang objek penelitiannya adalah
naskah dan teks klasik. Hasil penelitian filologi ini dapat digunakan oleh cabang-
cabang ilmu lain seperti; sejarah, hukum (terutama hukum adat), perkembangan
agama, kebahasaan, kebudayaan dan juga sangat bermanfaat untuk dipublikasikan
kepada khalayak umum (Lubis, 2001: 27)
Salah satu naskah yang dapat dijadikan sebagai objek penelitian filologi
adalah naskah dalam bentuk hikayat. Hikayat adalah karya sastra lama Melayu
berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang dan silsilah bersifat rekaan,
keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur
lara, pembangkit semangat juang atau sekedar untuk meramaikan pesta (Kamus
Besar Bahasa Indonesia, 2002:401).
Dalam cerita hikayat, sering kali dimasukkan juga cerita binatang untuk
menarik pembaca yang biasa disebut fabel. Fabel merupakan salah satu bentuk
sastra imajinatif yang diungkapkan secara lisan atau tulisan mengandung makna
berbeda dari apa yang tersurat. Biasanya yang menjadi pelakunya binatang atau
kadang-kadang manusia dan binatang (Anonim, 1997: 242)
Hikayat dikaji secara filologi untuk mengetahui nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan Hikayat Raja Rahib yang
kemudian disingkat HRR. Melalui sebuah cerita fabel yang disampaikan dalam
bentuk hikayat ini, terkandung pesan tersirat yang hendak disampaikan kepada
pembaca. Naskah ini menceritakan tentang seorang anak yaitu Sayidina Amin
yang disiksa ayah kandungnya sendiri karena memeluk agama Islam dan hendak
mengislamkan ayah dan ibunya serta seluruh rakyat di negerinya. Raja Rahib
menyiksa anaknya itu dengan cara mengikat dan membuangnya ke laut. Akan
tetapi karena selalu menyebut dua kalimat syahadat, Sayidina Amin selamat atas
pertolongan malaikat yang diutus Nabi Muhammad.
Setelah Sayidina Amin selamat, ia menghadap orang tuanya. Sayidina
Amin mengajak orang tuanya masuk Islam dan menjelaskan bahwa Allah itu Esa
dan ajaran Nabi Muhammad adalah benar, anjing dan babi adalah haram dan yang
halal adalah kerbau dan sapi. Dan jika masuk Islam maka akan masuk surga Raja
Rahib marah setelah mendengar hal itu. Ia takut Sayidina Amin akan
meruntuhkan agama yang dianutnya dan menegakkan agama Islam. Kemudian
Sayidina Amin diikat lagi dengan rantai dan dikubur hidup-hidup. Usaha Raja
Rahib ini gagal lagi karena Nabi Muhammad mendengar Sayidina Amin
menyebut-nyebut namanya. Nabi Muhammad memerintahkan salah seorang
malaikat untuk menyelamatkan Sayidina Amin. Sayidina Amin pun kembali ke
rumah orang tuanya.
Ketika melihat Sayidina Amin selamat, Raja Rahib kembali menyiksanya.
Sayidina Amin kembali diikat dan dibuang ke dalam hutan. Di dalam hutan,
Sayidina Amin tetap selalu menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad. Di sana
Sayidina Amin bertemu dengan harimau, gajah, dan ular. Binatang-binatang itu
yang menolong dan menyelamatkannya, bahkan Sayidina Amin diantar oleh ular
ke Mekah untuk bertemu dengan Nabi Muhammad.
Sebelum sampai ke Mekah Sayidina Amin bertemu dengan Baginda Ali.
Baginda Ali membawa Sayidina Amin ke rumahnya dan bertemu istrinya yang
bernama Fatimah Zuhria dan anak-anaknya yang bernama Hasan dan Husein.
Setelah itu Baginda Ali membawa Sayidina Amin bertemu dengan Rasulullah di
Ka’bah.
Sesampai di Ka’bah, Baginda Ali menceritakan penderitaan yang dialami
Sayidina Amin kepada Rasulullah. Baginda Ali menceritakan bagaimana Sayidina
Amin disiksa oleh ayahnya sendiri, Raja Rahib karena menjelaskan tentang
keesaan Tuhan dan selalu menyebut nama Nabi Muhammad. Setelah mendengar
cerita itu, Rasulullah memerintahkan Baginda Ali agar segera mengislamkan Raja
Rahib beserta seluruh rakyatnya di negeri Tursaman.
Akhirnya Baginda Ali dan Sayidina Amin pergi ke negeri Tursaman untuk
menjalankan perintah Rasulullah. Setelah bertemu Raja Rahib, Baginda Ali
kemudian menjelaskan bahwa Allah itu Esa, ajaran Nabi Muhammad benar,
anjing dan babi adalah haram, sedangkan yang halal adalah kerbau dan sapi, dan
jika masuk Islam maka masuk surga. Mendengar hal itu Raja Rahib justru
melawan Baginda Ali, kemudian Baginda Ali segera membunuhnya.
Setelah Raja Rahib mati, istri Raja Rahib, Puti Komariah beserta
rakyatnya dan keempat puluh raja negeri di sekitarnya masuk Islam. Akhirnya
Sayidina Amin diangkat menjadi raja di negeri Tursaman. Ia menjadi raja yang
sangat adil bagi rakyat-rakyatnya. Hal ini berkat ajaran dari Baginda Ali
Martadhila.
Dari ringkasan di atas, jelas tersirat bahwa naskah Hikayat Raja Rahib ini
mengandung nilai Islam yang sangat bermanfaat bagi pembaca sebagai pedoman
hidup di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk memilih naskah
dalam bentuk hikayat ini untuk dikaji secara filologis dan kemudian dianalisis
nilai Islamnya sehingga dapat dibaca dan dipahami pembaca sebagai masyarakat
modern.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimana suntingan teks Hikayat Raja Rahib (HRR) sehingga dapat
dibaca dan dinikmati oleh pembaca sebagai masyarakat modern?
2. Apa sajakah nilai-nilai Islam yang terkandung dalam naskah Hikayat
Raja Rahib (HRR) sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan
masyarakat sebagai bekal di dunia dan akhirat?

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini sebagai
berikut.
1. Menyajkan suntingan teks Hikayat Raja Rahib (HRR) sehingga dapat
dibaca dan dinikmati oleh pembaca sebagai masyarakat modern.
2. Mengungkap nilai-nilai Islam yang terkandung dalam teks Hikayat Raja
Rahib (HRR) sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat
sebagai bekal di dunia dan akhirat.

1. 4. Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut.
1. Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai inventaris
bagi studi filologi dalam memperkaya khazanah sastra klasik di
Indonesia, yang berupa suntingan teks Hikayat Raja Rahib (HRR) dan
nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
sumber pengetahuan, inspirasi untuk menghasilkan karya sastra baru
dan dapat membentuk sifat dan perilaku masyarakat yang lebih baik.

1. 5. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini disusun secara berurutan yang terdiri atas lima
bab. Bab satu adalah pendahuluan. Pada bagian pendahuluan ini mencakup latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan
sistematika penulisan.
Bab dua adalah landasan teori yang dijadikan sebagai dasar pemikiran
untuk mengkaji permasalahan yang ada. Pada bagian landasan teori ini
dikemukakan tentang hakikat filologi (yang terdiri atas pengertian filologi, dan
objek filologi yang meliputi naskah dan teks), kritik teks (yang meliputi
pengertian kritik teks, tahapan kritik teks, pengertian transliterasi, pengertian
penyuntingan teks, hakikat hikayat (yang meliputi pengertian hikayat, pengertian
fabel), nilai Islam (yang terdiri atas pengertian nilai, pengertian Islam, dan nilai
Islam dalam naskah lama yang terdiri atas aqidah, akhlak, dan ibadah).
Bab tiga adalah langkah kerja yang dilakukan dalam memecahkan masalah
yang berupa metode penelitian. Pada bagian metode penelitian ini dikemukakan
tentang data dan sumber data, metode penelitian, teknik analisis data dan langkah
kerja penelitian.
Bab empat merupakan bentuk penyajian dan pemaparan analisis suntingan
teks Hikayat Raja Rahib (HRR) dan nilai-nilai Islam yang terkandung di
dalamnya. Pada bagian ini juga disajikan deskripsi naskah, transliterasi (yang
meliputi pedoman transliterasi dan hasil transliterasi), suntingan teks (yang
meliputi dasar-dasar penyuntingan teks dan hasil suntingan teks), aparat kritik dan
nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya.
Bab lima adalah penutup yang merupakan akhir pada penelitian skripsi ini.
Pada bagian penutup ini berisi simpulan hasil penelitian terhadap naskah Hikayat
Raja Rahib (HRR) dan saran bagi pembaca.

 

DOWNLOAD FILE FULL : BAB1-5-DAFTAR PUSTAKA

nes (100)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s