PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT 250 KPM DENGAN PEMBELAJARAN LATIHAN BERJENJANG DAN PENILAIAN AUTHENTIC ASSESSMENT PADA SISWA KELAS VIIIA MTs MIFTAHUL ULUM RENGASPENDAWA KABUPATEN BREBES

Posted: March 15, 2011 in Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pemberlakuan kurikulum 2004 oleh pemerintah menghendaki
terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi,
standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada
hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa adalah belajar
berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-
nilai kemanusiaannya (Depdiknas 2003b: 2).
Kurikulum Berbasis Kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia adalah salah satu program untuk mengembangkan pengetahuan,
keterampilan berbahasa siswa, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra
Indonesia (Depdiknas 2003b:3). Kegiatan-kegiatan ini sangat penting dilakukan
untuk perkembangan sikap dan bahasa anak. Dengan kata lain, melibatkan siswa
dalam proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan kebutuhan
dan keharusan untuk dilaksanakan.
Standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia SMP dan MTs adalah
(1) mampu mendengarkan dan memahami beraneka ragam wacana lisan, baik
sastra maupun nonsastra; (2) mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan,
dan perasaan secara lisan; (3) mampu membaca dan memahami suatu teks bacaan
sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai; (4) mampu
mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam
berbagai ragam tulisan; dan (5) mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra
(Depdiknas 2003b:4).
Untuk mencapai Standar Kompetensi di atas, kegiatan sekolah adalah
lebih dari sekadar pengajaran. Kegiatan sekolah adalah kegiatan pembelajaran.
Siswa belajar, saling belajar, bukan hanya dari guru melainkan dari teman-teman
sekelas, sesekolah, dari sumber belajar lain. Dan pendekatan pembelajaran yang
digunakan oleh guru juga harus dapat membawa siswa ke pembelajaran yang
bermakna.
Berdasarkan pengamatan dan informasi media massa umumnya
beberapa sekolah telah mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes merupakan salah satu
MTs swasta yang tengah menyiapkan diri terhadap implementasi KBK. Berbagai
usaha telah diupayakan untuk menerapkan KBK seperti: (1) mendorong guru
memahami konsep KBK; (2) mengirim guru mengikuti seminar atau work shop
KBK; dan ( 3) menyiapkan perangkat atau fasilitas yang dibutuhkan.
MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes juga
merupakan sekolah yang sudah menerapkan prinsip KBK tetapi baru diberlakukan
bagi kelas VII. MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes belum
menerapkan prinsip KBK pada kelas VIIIA Salah satu indikator penyebab belum
diberlakukannya/diterapkannya KBK pada kelas VIII adalah kurangnya kesiapan
dan motivasi guru dalam menciptakan kegiatan belajar mengajar yang berorientasi
kompetensi. Hal itu tampak pada masih diberlakukannya Kurikulum 1994 yang
sering menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar daripada
metode-metode yang lain.
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan materi yang
disajikan secara sistematis sesuai dengan kenyataan bahasa di masyarakat,
diharapkan siswa mampu menyerap materi tentang berbagai hal; mampu mencari
sumber, mengumpulkan, menyaring, dan menyerap pelajaran yang sebanyak-
banyaknya sekaligus dapat berlatih mengenai Bahasa Indonesia khususnya
keterampilan membaca.
Siswa sekolah dasar seharusnya sudah memiliki kemampuan membaca
karena kemampuan membaca dapat dijadikan sebagai modal utama dalam proses
belajar mengajar. Dengan bekal kemampuan membaca, anak akan menjadi mudah
dalam proses belajarnya. Kelancaran dan kesuksesan prestasi yang akan diperoleh
anak adalah melalui membaca. Dengan sering membaca anak akan memperoleh
pengetahuan, serta mempermudah pola pikirnya untuk berpikir secara kritis.
Nurhadi (2004a:11) menyatakan hal-hal yang harus diperhatikan
apabila ingin meningkatkan kemampuan membaca sebagai berikut.
a. Menyadari adanya berbagai variasi tujuan membaca, yang berbeda dari satu
kegiatan membaca dengan kegiatan membaca yang lain.
b. Selalu merumuskan secara jelas setiap kegiatan membaca, minimal tahu apa
yang akan diperoleh dari bacaan.
c. Memerlukan pengembangan berbagai strategi membaca selaras dengan ragam
tujuan membaca.
d. Memerlukan latihan membaca dengan berbagai variasi tujuan membaca.
e. Menyadari bahwa seseorang mempunyai daya baca tinggi (baik) akan mampu
memanfaatkan teknik membaca yang bervariasi, sejalan dengan tujuan
membaca yang ingin dicapainya.
Keterampilan membaca merupakan suatu kesinambungan yang
berlangsung secara berangsur-angsur, berproses dari yang sederhana hingga yang
lebih rumit. Demikian juga kemampuan membaca siswa SMP/MTs merupakan
kelanjutan dari membaca dasar. Dalam menghadapi kenyataan pengajaran
membaca di SMP/MTs hendaknya mempertimbangkan hal-hal seperti
perkembangan program membaca, keadaan murid-murid SMP/MTs, metode, serta
bahan yang meliputi keterampilan-keterampilan yang perlu dikuasai, bidang isi,
dan pelayanan perpustakaan (Hardjasudjana 1997:61).
Sama halnya dengan siswa MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes, dilihat dari usia siswanya yang berkisar antara 12-15 tahun,
pada usia tersebut merupakan periode sulit yang dapat mengundang banyak
tafsiran dengan adanya perubahan-perubahan psikofisik yang terjadi karena pada
usia tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Berdasarkan observasi, kecepatan membaca dan pemahaman bacaan
siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes masih
kurang maksimal. Seperti yang telah dikemukakan di atas, keterampilan membaca
merupakan sesuatu yang berkesinambungan, sama halnya dengan siswa MTs
Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes ada yang cepat, ada yang
lambat, dan masih mempunyai kebiasaan jelek dalam membaca. 5
Berdasarkan observasi tersebut, peneliti bermaksud mengadakan
penelitian di kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes
karena kecepatan dan pemahaman dalam membaca sebuah teks masih sangat
kurang maksimal dibandingkan dengan kelas VIII yang lainnya. Kecepatan
membaca siswa kelas VIIIA masih dalam tingkat lambat, yaitu berkisar antara 90-
170 kata per menit. Demikian pula dengan pemahaman bacaan hanya mampu
memahami sebesar 60%. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan guru
Bahasa dan Sastra Indonesia dan pengamatan, siswa di MTs Miftahul Ulum
Rengaspendawa Kabupaten Brebes disimpulkan bahwa upaya khusus untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca cepat masih belum banyak
dilakukan oleh guru. Kebanyakan guru hanya mengejar target materi yang harus
diajarkan pada siswa.
Berdasarkan hasil studi para ahli Amerika, kecepatan yang memadai
untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm, siswa lanjutan
tingkat pertama anatra 200-250 kpm, siswa tingkat lanjutan atas antara 250-325
kpm, dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi bacaan
minimal 70 %. Adapun di Indonesia KEM minimal untuk klarifikasi pembaca
adalah SD (140 kpm), SLTP (140-175 kpm), SMU (175-400kpm), PT (245-280
kpm) Hardjasudjana (1997:73). Dengan mengacu pada teori tersebut, kecepatan
membaca siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten
Brebes masih di bawah standard kecepatan membaca tingkat SMP/MTs.
Kondisi siswa dalam menerima pelajaran juga belum efektif.
Dikatakan belum efektif, karena dalam menerima pelajaran siswa ada yang ramai, 6
ada yang memperhatikan, dan berbicara sendiri dengan teman sebangku. Hal
tersebut bisa terjadi karena ada rasa jenuh pada diri siswa atau penyampaian
materi pelajaran yang kurang menarik.
Dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan kecepatan membaca
untuk memahami bacaan. Dengan membaca cepat dan pemahaman cepat pula, isi
bacaan akan mudah ditemukan. Untuk meningkatkan keterampilan membaca
cepat, peneliti akan meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas VIIIA MTs
Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan
pembelajaran kontekstual elemen authentic assesment/penilaian yang sebenarnya.
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektifitas yakni, konstruktivisme
(Constructivisme), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat
belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian yang
sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdikbud 2002: 5).
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic
assesment diharapkan dapat meningkatkan kecepatan membaca. Dalam
pembelajaran tersebut akan dikaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia
nyata siswa. Di samping itu, adanya penekanan penilaian proses pembelajaran.
Penilaian pembelajaran didasarkan pada penilaian berbasis kelas. Penilaian
Berbasis Kelas (PBK) menekankan pencapaian hasil belajar, siswa sekaligus 7
mencakup seluruh proses mengajar dan belajar melalui kegiatan PBK yang
menilai karakteristik siswa, metode mengajar dan belajar, pencapaian kurikulum,
alat dan bahan belajar, dan administrasi sekolah. Assessment adalah proses
pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Siswa akan diberi latihan terstruktur, dan tugas-tugas yang berkaitan dengan
membaca cepat. Dari latihan dan tugas-tugas tersebut akan dijadikan data yang
dikumpulkan yang nantinya dapat mengetahui perkembangan belajar siswa.

1.2 Identifikasi Masalah
Dalam membaca cepat, masalah yang sering ditemukan yaitu: a) huruf
pada bacaan kurang standar, b) kecepatan membaca siswa masih dalam tahap per
suku kata, dan c) kurangnya latihan secara terstruktur yang dilakukan oleh siswa.
Kecepatan membaca siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes masih kurang maksimal, yaitu 90-170 kpm.
Dalam proses belajar mengajar, kecepatan membaca siswa sangat
diperlukan untuk bisa mengetahui isi buku dan pemahaman isi buku dengan cepat.
Dengan membaca cepat dan pemahaman yang cepat pula, prestasi siswa bisa
semakin meningkat. Akan tetapi, kenyataannya minat membaca atau kecepatan
membaca dan pemahaman bacaan secara cepat, serta kurangnya latihan secara
terstruktur yang dilakukan oleh siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum
Rengaspendawa Kabupaten Brebes menyebabkan kecepatan membaca siswa
kurang maksimal. Selain minat, kecepatan membaca, dan pemahaman bacaan,
penilaian yang dilakukan guru di kelas kurang menggunakan cara dan alat yang 8
bervariasi. Penilaian diarahkan pada penguasaan bahan yang diujikan dalam
bentuk tes objektif. Ini disebabkan oleh adanya beberapa hal sebagai berikut.
a. Siswa kurang latihan dalam membaca secara benar.
b. Bacaan kurang menarik, yaitu isi bacaan tidak sesuai dengan keinginan siswa,
sehingga siswa membaca hanya sekadar pengisi waktu luang.
c. Guru kurang memberikan latihan pada siswa dalam kegiatan membaca.
d. Minat baca pada diri siswa yang kecil, yaitu pada diri kurang berminat pada
kegiatan membaca.
e. Guru kurang memiliki pengetahuan dan kemahiran tentang berbagai metode
dan teknik penilaian, sehingga kurang dapat memilih dan melaksanakan
dengan tepat metode dan teknik penilaian yang ada.
f. Guru kurang mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dalam membaca
cepat.
Salah satu Kompetensi Dasar keterampilan membaca yang harus di
capai oleh siswa kelas VIII adalah membaca cepat 250 kpm dengan indikator
sebagai berikut: a) mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan
teman; b) mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan : 1) metode gerak
mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi (mengulang), 2)
menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara, 3) meningkatkan
konsentrasi: c) mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%.
Berdasarkan Kompetensi Dasar tersebut, keterampilan yang
diharapkan adalah keterampilan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual
elemen authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Dengan pembelajaran 9
tersebut diharapkan siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes mampu meningkatkan kemampuan membacanya lebih cepat,
efektif, menyenangkan, lebih cepat memahami bacaan sehingga siswa semakin
gemar membaca.

1.3 Pembatasan Masalah
Masalah yang dibahas dalam penelitian adalah peningkatan
kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic
assesment. Dalam penelitian ini peneliti berupaya mengatasi segala hambatan
dalam membaca dan meningkatkan kecepatan, serta memberikan tindakan
preventif untuk menghilangkan segala penghambat kecepatan membaca, serta
menggunakan sistem penilaian yang sebenarnya. Peneliti membatasi
permasalahan karena peneliti berfokus pada peningkatan kemampuan membaca
cepat, pemahaman bacaan dan sistem penilaian.
Agar kemampuan membaca cepat meningkat, penulis menggunakan
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment yang mengacu pada
pengontrolan kecepatan efektif membaca.

1.4 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang dan pembatasan masalah di atas,
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas
VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan
menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment? 10
2. Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum
Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan diadakan membaca cepat
dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment?

1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dapat tercapai dalam penelitian ini adalah:
a. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas
VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah
menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.
b. Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul
Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah diadakan membaca
cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

1.6 Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu
manfaat teoretis dan manfaat praktis.
1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis setelah dilakukannya latihan membaca cepat
melalui pembelajaran bersiklus adalah menambah khasanah
pengembangan pengetahuan membaca cepat. Selain itu juga,
mengembangkan teori pembelajaran membaca cepat melalui pembelajaran
kontekstual elemen authentic assessment.

2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat,
khususnya bagi siswa, guru, dan peneliti yang lain. Bagi siswa, dengan
adanya penelitian siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna
dengan pembelajaran kontekstual dan peningkatan kemampuan membaca
cepat. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca cepat
siswa. Bagi peneliti yang lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan
pelengkap terutama dalam hal bagaimana cara meningkatkan kemampuan
membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual dan teknik membaca
cepat.

 

DOWNLOAD FILE FULL = BAB1-5-DP

nes (296)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s